POJOKSATU.id - Pembahasan mengenai ahli gizi kini ramai diperbincangkan.

Setelah adanya pernyataan dari wakil ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal yang mengatakan

“Kita tidak perlu Ahli Gizi, tidak perlu PERSAGI yang diperlukan adalah satu tenaga yang mengawasi gizi,” ungkapnya.

Hal ini timbul karena kurangnya tenaga ahli gizi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Seorang Tiktoker dalam akunnya yang bernama @chep_kumink memberikan komentar mengenai alasan susahnya cari ahli gizi.

Baca Juga: Seleksi CPNS 2026 Makin Fleksibel, Tapi Isu 400 Ribu Formasi Dibantah, Ini Fakta Sebenarnya

“Banyak Ahli Gizi yang resign karena dia merangkak, merangkap jadi seorang Chef,” ucapnya.

Menurut Tiktoker yang juga seorang chef tersebut, banyak ahli gizi yang dibebankan pekerjaan yang bukan pekerjaannya.

Sehingga banyak ahli gizi yang tidak sanggup bahkan hal tersebut berimbas pada kualitas makanan yang dibuat.

Seperti makanan basi dan menimbulkan keracunan bagi siswa.

“Harusnya ini tuh diperbaiki, supaya tidak ada orang-orang yang bekerja diluar koridornya, diluar kemampuannya dan diluar batasnya,” lanjutnya.

Baca Juga: Resmi Dilantik Hari Ini! PPPK Paruh Waktu Sulsel Langsung Terima Gaji Mulai 1 Oktober, Begini Aturan TMT-nya

Tiktoker tersebut juga menyarankan pembagian tugas antara ahli gizi dengan chef agar keduanya bisa bekerja dengan maksimal.

“ Ahli gizi itu tidak dibebankan semua, bagi dua tugas dengan chef. Beda antara chef dengan cook,” lanjutnya lagi.

Postingan tersebut menimbulkan banyak komentar dukungan dari netizen khusunya para ahli gizi.

“Ya Allah chef, aku padamu. Semoga BGN melihat VT ini,” ungkap akun @dipeptydill_ dalam kolom komentar.

Sementara itu, dikutip dari STIKes Husada Borneo, seorang ahli gizi memiliki tugas untuk membantu meningkatkan gizi masyarakat.

Untuk menjadi seorang dietisien atau seorang ahli gizi, tidak cukup dengan hanya kuliah sampai D3 atau S1.

Baca Juga: Tim Gabungan SAR Dikerahkan untuk Mencari 2 Pemancing yang Hilang Terseret Ombak di Pantai Cikeueus Sukabumi

Kuliah D3 atau S1 mahasiswa bisa menjadi seorang nutrisionis yang memberikan konseling dan penyuluhan.

Dan untuk menjadi ahli gizi, diharuskan untuk mengikuti program penyetaraan formal terlebih dahulu.

Serta harus mendapatkan sertifikasi RD atau Registered Dietitian.

Sertifikasi tersebut yang akan membedakan antara dietisien dengan nutrisionis.***