POJOKSATU.id, JAKARTA-- Thomas Trikasih Lembong atau lebih akrab disapa dengan Tom Lembong merupakan mantan Timses Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) yang ditangkap dan ditahan Kejagung.

Tom Lembong yang memiliki agama Katolik ini sempat mengunggah status di akun Twitter atau X beberapa saat sebelum ditangkap Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Selasa (30/10/2024).

Mantan Menteri Perdagangan era Jokowi ini memiliki Instagram dan Twitter (X) serta Facebook dengan nama akun @tomlembong (Instagram, X), dan Tom Lembong (Facebook, LinkedIn).

Tom lahir di Jakarta 4 Maret 1971 lalu. Dia sempat menjadi Menteri Perdagangan pada 2015-2016 di era Presiden Jokowi.

Baca Juga: Usai Pahala Nainggolan, Polda Metro Periksa 29 Saksi dari KPK, Terkait Pertemuan Alexander Marwata dan Eko Darmanto

Dia juga menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2016-2019 atau era Jokowi.

Thomas Lembong memiliki istri bernama Maria Franciska Wihardja. Mereka menikah tahun 2002 lalu dan kini dikarunia dua orang anak, Thalia Lembong dan Maxwell Lembong.

Co-Captain Timnas Anies-Muhaimin (AMIN) pada Pilpres 2024 ini memiliki kekayaan mencapai Rp101.486.990.994 atau lebih Rp 101 miliar.

Tom Lembong adalah lulus dari Harvard University- S1, Architecture and Urban Design (AB) pada 1997.

Baca Juga: BERSIAP Seleksi Kompetensi Bidang (SKB), BKN Keluarkan JADWAL dan KISI KISI Materi Tes, DOWNLOAD di Sini

Status Terakhir di Medsos

Unggahan status terakhir Tom Lembong di medsos X sebelum ditahan Kejagung dilakukan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober atau Senin lalu.

Begitu juga dengan status Instagram dilakukan pada 28 Oktober lalu. Statusnya sama atau tulisan yang diunggah sama antara yang di Instagram dan Twitter atau X.

Berikut unggahan lengkap status terakhir Tom Lembong sebelum ditangkap Kejagung.

“Kita sekarang di tengah-tengah sebuah pergantian zaman dan pergantian generasi. Pemuda kita (Millennial dan Gen-Z) harus siap untuk menentukan: negara seperti apa yang ingin kita bangun? Masih ada waktu, tapi 4 tahun lagi kita akan merayakan 100 tahun Sumpah Pemuda – dan hemat saya, pada saat itu Pemuda kita harus sudah siap untuk menentukan masa depan kita,” kata Tom Lembong dalam narasi statusnya.

Menurut Thomas Lembong, dalam Kongres Pemuda yang kedua (dari tiga di 1928, yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda), salah satu kesimpulan adalah “Anak juga harus dididik secara demokratis”.

“Jadi demokrasi kita ini sebenarnya adalah sebuah tradisi dan aspirasi yang sudah berjalan se-kurang-kurangnya 96 tahun. Hanya sedikit mengingatkan saja,” jelasnya.

“Terima kasih dan Selamat Hari Sumpah Pemuda, semuanya,” ujar Tom Lembong lagi.

Tom Lembong juga mengunggah video kegiatan bersama pemuda dalam status ini.***