POJOKSATU.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah puluhan siswa SDN Wargasari, Kecamatan Kadupandak, Kabupaten Cianjur, mendadak tumbang usai menyantap menu yang dibagikan pada Selasa pagi, 27 Januari 2026.
Insiden ini memperpanjang daftar kasus keracunan massal yang muncul sejak program MBG digulirkan tahun lalu.
Dari data yang dihimpun, sebanyak 28 siswa mengalami gejala mual, muntah, pusing, serta demam setelah menyantap makanan tersebut.
Baca Juga: Jangan Salah Langkah, Ini Kesalahan Kecil Guru yang Bisa Membuat TPG Bulanan 2026 Tidak Cair
Sebelas di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit karena kondisi tubuh tidak kunjung stabil. Informasi itu dikutip PojokSatu.id dari laporan DetikJabar yang ikut menelusuri kejadian di lapangan.
Sejumlah orang tua menyebut anak-anak mereka sempat mencium bau tak wajar pada lauk yang disajikan, dan beberapa siswa mengaku kehilangan selera makan sesaat setelah membuka kotak menu.
Pihak kepolisian langsung turun tangan. Kapolsek Kadupandak mengatakan bahwa petugas telah membawa sampel muntahan siswa untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan.
Baca Juga: Jangan Salah Langkah, Ini Kesalahan Kecil Guru yang Bisa Membuat TPG Bulanan 2026 Tidak Cair
Aparat belum menyimpulkan apakah insiden dipicu oleh kontaminasi makanan atau faktor lain, namun penyelidikan dipastikan terus berjalan.
Kasus di Cianjur bukanlah yang pertama. Pada April 2025, daerah yang sama sempat menetapkan status Keadaan Luar Biasa (KLB) setelah puluhan siswa dari beberapa sekolah mengalami keracunan massal usai makan MBG.
Laporan tersebut tercatat oleh Tempo, memperlihatkan bahwa pola kejadian serupa telah berulang lebih dari sekali di wilayah ini.
Baca Juga: Turun ke Desa, Camat Cikampek Ingatkan Bahaya Sampah di Sungai
Peristiwa terbaru ini kembali mengundang sorotan publik terhadap standar keamanan pangan MBG.
Warga berharap pemerintah daerah serta penyedia makanan bergerak cepat memperbaiki pengawasan.
Agar program yang sejatinya bertujuan meningkatkan gizi pelajar tidak lagi berubah menjadi ancaman kesehatan.***




