POJOKSATU.id – Puluhan emak-emak terlihat mengikuti kedatangan Roy Suryo, Rismon Sianipar dan Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa di Polda Metro Jaya, Kamis (13/11/2025)

sebagai wujud dukungan moral yang kemudian menjadi sorotan masyarakat. 

Mereka datang membawa poster bertuliskan “You Never Walk Alone”, “3 Calon Penyelemat Bangsa dari Keterpurukan”, hingga “Polisi Harus Adil!”. 

Baca Juga: Mau Liburan Natal dan Tahun Baru? Tiket Kereta Sudah Bisa Dipesan Dari Sekarang

Kedatangan Roy Suryo cs adalah bagian dari pemenuhan panggilan penyidik dalam perkara dugaan pemalsuan ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Sekitar pukul 10.17 WIB, mereka tiba di Mapolda Metro dengan pengawalan yang tidak hanya resmi dari kepolisian.

Tetapi juga kehadiran kaum ibu-ibu yang menyuarakan dukungan publik.

Baca Juga: Tes Substantif Numerasi Mematikan? Ini 5 Strategi Biar Nggak Kalah Waktu di Tes PPG!

Mengapa kehadiran emak-emak ini menjadi sorotan?

Di satu sisi, ia mencerminkan kekuatan solidaritas sosial yang tidak terduga.

Perempuan yang biasa berkiprah dalam ranah domestik kini tampil di ruang publik hukum-politik.

Baca Juga: Rekonstruksi Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu, Pelaku P Sempat Beri Susu ke Korban Balita Sebelum Dibunuh

Kehadiran mereka juga simbol bahwa isu ini telah bergerak dari ‘kasus hukum’ menjadi ‘fenomena sosial’.

Roy Suryo dalam pernyataannya menegaskan bahwa ia dan rekan-rekannya siap menghadapi pemeriksaan sebagai tersangka.

“Karena kami tahu sejak awal kami akan diskriminasi,” ujarnya di hadapan awak media. 

Sementara itu, kuasa hukumnya, Ahmad Khozinudin, menegaskan bahwa penetapan tersangka tidak otomatis berarti penahanan. 

Baca Juga: Rekonstruksi Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu, Pelaku P Sempat Beri Susu ke Korban Balita Sebelum Dibunuh

Dari sisi hukum, Polda Metro Jaya telah menetapkan delapan orang sebagai tersangka dalam dua klaster berbeda.

Klaster kedua meliputi Roy Suryo, Rismon dan Dokter Tifa.

Dalam konteks ini kehadiran emak-emak bisa dibaca sebagai upaya membingkai narasi bahwa “tokoh yang didukung”.

Baca Juga: Geger di Trans Sulawesi, Mobil Pembawa Uang BNI Rp 4,6 Miliar Tiba Tiba Terbakar

Bukan berjalan sendiri bahwa ada jaringan simpati yang kuat di lingkar masyarakat akar rumput.

Kehadiran ibu-ibu dengan aksen visual poster di lingkungan polisi menjadi semacam “panggung emosional”.

Di sini poster “You Never Walk Alone” bukan sekadar slogan  namun simbol bahwa dukungan moral itu hadir nyata, bukan di ruang maya semata.

Baca Juga: Main Asal Foto dan Tuduh! Penumpang Ini Bikin Viral Pramugara dan Pramugari KAI yang Diduga Berpacaran

Aksi ini memperlihatkan bahwa bagi sebagian kelompok masyarakat, penegakan hukum tidak hanya soal aparat dan tersangka.

Tapi juga soal citra, rasa keadilan dan identitas komunitas yang merasa “diwakili”.

Di sisi lain, fenomena dukungan seperti ini dapat menjadi pengingat bahwa proses hukum masa kini seringkali berlangsung dalam sorotan publik dan media sosial.

Keberadaan publik yang hadir secara langsung lewat emak-emak di Polda Metro Jaya  memberi warna pada bagaimana kasus ini akan dirasakan oleh masyarakat luas.***