POJOKSATU.id - Abu vulkanik yang menutupi rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar setelah erupsi ternyata tidak boleh diperlakukan seperti debu biasa.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan adanya risiko kesehatan dan kerusakan benda apabila proses pembersihannya dilakukan sembarangan.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi menjelaskan abu vulkanik memiliki kandungan dan karakteristik yang membuat proses penanganannya perlu dilakukan secara hati-hati.

"Abu vulkanik mengandung partikel silika yang tajam dan bersifat asam, sehingga bila salah penanganan dapat merusak lantai, kaca, kendaraan, sekaligus membahayakan paru-paru," kata Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta.

Baca Juga: Secukupnya Selamanya

Gunakan Pelindung Saat Membersihkan
Sebelum mulai membersihkan abu, warga maupun petugas disarankan mengenakan perlengkapan pelindung.

Masker N95 atau KN95, kacamata pelindung, sarung tangan, serta pakaian berlengan panjang menjadi perlengkapan yang perlu digunakan.

Area yang sedang dibersihkan juga sebaiknya dijauhkan dari anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru.

Kelompok tersebut lebih rentan mengalami dampak akibat paparan abu vulkanik.

Baca Juga: Join Sehat Fitness Resmi Dibuka di Purwasari Karawang, Bisa Gym Sambil Nongkrong di Kedai

Selain melindungi tubuh, kondisi ruangan juga perlu diperhatikan.

Pintu dan jendela harus ditutup rapat supaya abu dari luar tidak kembali masuk ke dalam rumah.

Kipas angin maupun mesin pengatur suhu udara juga sebaiknya dimatikan sementara.

Langkah ini penting agar partikel abu tidak terus berputar dan menyebar ke berbagai bagian ruangan.

Jangan Langsung Menyiram Abu dengan Ember

Baca Juga: SMK Go Global, Kemenperin Buka Peluang Kerja ke Luar Negeri, Ada Pelatihan dan Sertifikasi

Ada satu hal yang juga perlu diperhatikan ketika abu mulai dibersihkan.

Permukaan yang tertutup abu dapat terlebih dahulu dibasahi dengan semprotan air secara ringan.

Cara tersebut dilakukan sebelum abu disapu atau dikumpulkan.

Namun, jangan langsung menyiramnya menggunakan air dalam jumlah banyak dari ember karena abu justru dapat mengeras menyerupai semen.

Untuk lantai dan perabotan, pembersihan dapat dilakukan menggunakan kain pel basah.

Jika tersedia, vacuum cleaner dengan filter HEPA juga dapat digunakan untuk membantu membersihkan partikel abu.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Monitor Dapur MBG Seluruh Indonesia Pakai Tim Direktorat Perbendaharaan

Abu yang sudah terkumpul sebaiknya dimasukkan ke wadah tertutup.

Jangan membuangnya ke saluran air karena dapat menimbulkan persoalan baru.

Dampak Abu Vulkanik Tak Hanya ke Pernapasan
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kemenkes mulai mengaktifkan Health Emergency Operating Centre (HEOC) dan menyiapkan sejumlah kebutuhan untuk merespons dampak kesehatan akibat erupsi Anak Krakatau.

Persiapan tersebut antara lain mencakup nebulizer, konsentrator oksigen, obat tetes mata, serta salep kulit.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu, ia mengatakan erupsi Anak Krakatau berdampak pada kesehatan, baik terhadap pernapasan, mata, maupun kulit.

Baca Juga: Hasil Penilaian Proposal OMI Riset 2026 MTs dan MA Diumumkan, Ini Link dan Jadwal Tahap Berikutnya

Karena itu, masyarakat disarankan tetap berada di dalam rumah untuk mengurangi paparan partikel erupsi.

Bila memang harus keluar rumah, penggunaan masker dan kacamata dianjurkan untuk membantu mencegah partikel erupsi masuk ke tubuh.

Bagaimana Jika Mata Terkena Abu?
Partikel erupsi yang mengenai mata juga perlu ditangani dengan tepat.

Masyarakat diingatkan agar tidak mengucek mata karena tindakan tersebut justru dapat memperparah iritasi.

Mata dapat dibersihkan menggunakan air atau obat tetes mata.

Baca Juga: Ngeri, Hasil Lab Menu MBG Sebabkan Ratusan Siswa Keracunan di Karo Terungkap, 2 Bakteri Berbahaya

Jika keluhan berlanjut atau membutuhkan penanganan lebih lanjut, masyarakat dapat mendatangi puskesmas.

Imran menegaskan bahwa proses pembersihan yang dilakukan dengan perlindungan memadai dapat membantu mengurangi risiko tambahan bagi penghuni rumah.

"Dengan langkah yang hati-hati dan perlindungan yang tepat, rumah dapat kembali bersih tanpa menimbulkan risiko kesehatan tambahan bagi penghuninya," kata Imran.***