POJOKSATU.id, JAKARTA—Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau telah menyebar di lima provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera sejak erupsi Jumat (4/9) lalu.
Lima provinsi terdampak abu vulkanik ini antara lain Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Jarak terjauh adalah Bengkulu dengan jarak sekitar 650 km dari lokasi gunung.
Jarak garis lurus dari Gunung Anak Krakatau ke Kota Bengkulu sekitar 433 kilometer. Sementara jika mengikut jalan, dari Pelabuhan Bakaheuni Lampung ke Bengkulu berjarak sekitar 630 hingga 650 Km.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, mengatakan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke lima provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera.
Baca Juga: Bandara Soetta Ditutup Hingga Pukul 17.30 WIB, Ini Bahaya Abu Vulkanik Anak Krakatau Bagi Pesawat
"Dan berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu," ujar Lana Saria dalam konferensi pers secara daring, Minggu (6/9/2026).
Ia mengatakan arah dari sebaran abu Gunung Anak Krakatau tersebut bisa berubah. Kementerian ESDM pun mengimbau masyarakat berada di dalam ruangan terlebih dahulu.
"Arah dan jangkauan sebaran abu dapat berubah bergantung pada arah dan kecepatan hujan abu. Oleh karena itu, seperti yang tadi saya sampaikan, diimbau untuk tidak beraktivitas di luar ruangan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah," katanya.
Baca Juga: CPNS 2027 Diperkirakan Dibuka Awal Tahun, PPPK Guru Bisa Ikut Seleksi PNS
Badan Geologi juga menyampaikan perkembangan pemantauan erupsi Gunung Anak Krakatau. Lana menjelaskan penyebab erupsi Gunung Anak Krakatau yang berulang.
Dia menyebutkan, Indonesia saat ini sedang dilanda erupsi gunung berapi, Gunung Anak Krakatau, di mana gunung ini mulai aktif erupsi sejak Juli 2026 dan aktivitas tertinggi ada di tanggal 5 September 2026.
“Jadi ini ada beberapa kekhawatiran tentunya terhadap aktivitas dari Gunung Krakatau bahwa aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus," ujar Lana.***




