POJOKSATU.id - Kabar terbaru dari Gunung Anak Krakatau menunjukkan perkembangan yang mulai melegakan.

Sebaran abu vulkanik terpantau bergerak menjauhi wilayah Indonesia, sementara sejumlah aktivitas masyarakat yang sebelumnya terganggu perlahan kembali berjalan.

Salah satunya terjadi di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan kembali menerapkan pembelajaran tatap muka mulai Rabu, 9 September 2026, setelah kondisi abu vulkanik di wilayah ibu kota berkurang.

Meski begitu, kondisi tersebut bukan berarti seluruh dampak erupsi sudah selesai.

Baca Juga: Usia 17 Tahun Bakal Punya Rekening Otomatis, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu

Warga sekolah tetap diminta berhati-hati, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.

Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengimbau penggunaan masker saat berada di luar ruangan.

Pintu dan jendela sekolah juga diminta tetap diperhatikan agar abu tidak mudah masuk ke dalam kelas.

Abu yang tersisa di udara memang mulai berkurang, tetapi pada ketinggian tertentu masih berpotensi mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan.

Di sisi lain, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.

Baca Juga: Bupati Purwakarta Marah Besar Lihat Proyek Asal Jadi: Yakin Bakal Di Blacklist Pemborongnya, Karena Diduga Orangnya Om Zein

Badan Geologi mencatat delapan kali erupsi pada Selasa, 8 September 2026.

Namun, karakter erupsi yang terjadi dinilai masih relatif terbatas.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut erupsi berlangsung singkat, sekitar 10 sampai 15 detik, dengan sebaran abu tidak lebih dari radius tiga kilometer.

"Kita apa namanya hari ini kita melihat gitu ya ada sebanyak 8 kali gitu ya, tetapi ini dalam rentan yang sangat pendek begitu ya, pendek dan hanya 10 sampai 15 detik. Jadi tidak ada penyebaran (abu vulkanik), penyebarannya hanya di sekitar gunung saja," kata Lana.

Karena itu, radius aman tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung masih diberlakukan.

Baca Juga: Hak Pengurus Pimpinan DPD Golkar Purwakarta Sudah Terpenuhi, Tinggal Kewajibannya Melaksanakan Musda

"[Radius erupsi] Tidak melebihi 3 kilometer. Jadi memang kita masih menetapkan radius aman untuk tidak dimasuki sejauh 3 kilometer dari aktivitas, dari pusat aktivitas," imbuhnya.

Badan Geologi menyebut Anak Krakatau saat ini memasuki fase Strombolian.

Fase tersebut ditandai erupsi dengan amplitudo dan durasi yang relatif terbatas.

"Di mana di dalam fase ini terjadi erupsi dalam amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan juga durasi waktu hanya beberapa detik," ujar Lana.

Sementara itu, pemantauan BMKG menunjukkan abu vulkanik bergerak ke arah selatan-barat daya, menjauhi puncak Anak Krakatau.

Baca Juga: Ibu Kandung Beberkan Kronologi Febiona Beru Purba Hilang Ingatan Akibat Keracunan MBG

Pergerakannya terpantau menuju kawasan Samudera Hindia bagian barat dan Laut Banten.

Analisis berdasarkan pantauan satelit juga memperkirakan abu berada hingga ketinggian sekitar 6.000 kaki.

BMKG memperkirakan sebagian sebaran abu bergerak menjauh dari Indonesia.

Kendati demikian, sisa abu yang masih berada di atmosfer tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi jarak pandang pada ketinggian tertentu.

Di tengah perkembangan tersebut, perhatian lain justru tertuju pada operasi pencarian rombongan yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.

Baca Juga: Ibu Kandung Beberkan Kronologi Febiona Beru Purba Hilang Ingatan Akibat Keracunan MBG

Rombongan tersebut sebelumnya berangkat dari Dermaga Pagedongan Carita pada Senin, 7 September 2026, untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau dari lokasi yang dinilai aman.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan komunikasi terakhir salah satu jurnalis terjadi pada pukul 15.04 WIB.

Sebelumnya, pada pukul 14.42 WIB, jurnalis tersebut sempat mengirimkan lokasi kapal kepada rekannya di Lampung.

"Komunikasi terakhir korban dengan jurnalis Lampung atas nama Abay bahwa pada pukul 14.42 (7 September 2026) mengirim share location terakhir dan pada pukul 15.04 terjadi hilang kontak. Sampai berita ini dilaporkan, korban belum ditemukan," tutur Amrad.

Baca Juga: Danantara Siapkan Jurus Baca Data Ekspor, Kebocoran Nilai Komoditas Jadi Sasaran

Berdasarkan pemutakhiran data Basarnas pada Selasa malam, total orang yang berada dalam kapal tersebut berjumlah tujuh orang.

Di antaranya terdapat pewarta foto LKBN Antara M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, Donal yang merupakan pewarta lepas, serta dua orang lainnya yang masih dalam pendataan.

Pencarian yang dilakukan tim SAR gabungan pada Selasa dihentikan sementara setelah petugas menyisir hingga kawasan Pulau Krakatau dan Pulau Panjang tanpa hasil.

Operasi pencarian kembali dilanjutkan pada Rabu, 9 September 2026.

Baca Juga: Gubernur Bobby Tegaskan Pemprov Sumut Tak akan Berhenti Pantau Kondisi Febiona Beru Purba

Tim SAR berencana memperluas wilayah pencarian dengan mengerahkan KN SAR Tatuka dan Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten yang dilengkapi perlengkapan SAR air, medis, serta komunikasi.

Polairud Polda Banten juga dilibatkan dalam operasi tersebut.

"Untuk rencana besok tetap nanti kita memperluas area pencarian karena hari ini kita mempelajari rute dari Carita sampai dengan Anak Gunung Krakatau. Seperti itu," kata Al Amrad.***