POJOKSATU.id - Benjolan yang terasa nyeri, kemerahan, hangat, dan terkadang mengeluarkan nanah jangan dianggap sepele.
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda abses, yaitu kantong berisi nanah yang terbentuk akibat respons tubuh terhadap infeksi.
Abses dapat muncul di berbagai bagian tubuh.
Tidak hanya berada di bawah permukaan kulit, kondisi ini juga bisa berkembang di mulut maupun organ dalam seperti hati dan otak.
Ketika bakteri masuk ke jaringan tubuh, sistem kekebalan akan mengirimkan sel darah putih untuk melawan infeksi.
Proses tersebut memicu peradangan di area yang terdampak.
Campuran sel darah putih yang hidup maupun mati, bakteri, cairan, dan jaringan yang rusak kemudian dapat membentuk kumpulan nanah.
Dari sinilah kantong abses terbentuk.
Pada abses kulit, tanda-tandanya biasanya lebih mudah dikenali.
Area yang terkena dapat membengkak, terasa sakit, tampak merah, serta hangat ketika disentuh.
Baca Juga: Galaxy Z8 Series Makin Pintar, AI Samsung Bisa Bantu Ubah Rencana Jadi Aksi
Nanah berwarna putih atau kekuningan juga dapat terlihat di bawah kulit.
Dalam sejumlah kasus, penderita bisa mengalami demam atau badan terasa panas dingin.
Abses yang dibiarkan juga dapat semakin membesar.
Bisa Berawal dari Luka Kecil
Infeksi bakteri menjadi salah satu penyebab utama abses.
Salah satu bakteri yang sering terlibat adalah Staphylococcus aureus, termasuk jenis yang resisten terhadap antibiotik seperti MRSA.
Baca Juga: WhatsApp Perkuat Keamanan Akun, Password 2FA Kini Lebih Sulit Ditebak
Bakteri tersebut dapat masuk melalui luka terbuka, gigitan serangga, tusukan benda tajam, atau penyebaran infeksi dari bagian tubuh lain.
Risikonya juga dapat meningkat pada kondisi tertentu.
Kebersihan tubuh yang kurang terjaga, misalnya, dapat membuat bakteri lebih mudah berkembang di area lembap seperti ketiak, lipatan paha, atau leher.
Kondisi yang membuat sistem kekebalan tubuh melemah juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.
Begitu pula diabetes karena kadar gula darah tinggi dapat menghambat penyembuhan luka.
Baca Juga: Ribuan KTP Elektronik Dimusnahkan Disdukcapil Garut, Ini Alasannya
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril juga menjadi faktor risiko karena dapat memberikan jalan langsung bagi bakteri masuk ke jaringan.
Lokasinya Bisa Beragam
Jenis abses sangat bergantung pada bagian tubuh yang terdampak.
Abses kulit dapat muncul di ketiak, payudara, sekitar anus dan rektum, maupun lipatan bokong.
Abses di ketiak, misalnya, dapat berkaitan dengan hidradenitis suppurativa yang menyebabkan benjolan meradang dan dapat berkembang menjadi abses.
Baca Juga: Maling Tepergok BAB Bugil di Kamar Korban di Solo Ternyata Pemuda Depresi Gara-gara Ibu Meninggal
Di area mulut, abses dapat menyerang gusi, ujung akar gigi, jaringan penyangga gigi, hingga sekitar amandel dan tenggorokan.
Gigi berlubang, cedera gigi, serta penyakit gusi tertentu dapat menjadi pemicunya.
Ada pula abses yang terbentuk jauh di dalam tubuh. Abses perut dapat berkembang di dalam atau dekat organ seperti hati, ginjal, dan pankreas.
Sementara itu, abses sumsum tulang belakang berkaitan dengan infeksi di sekitar tulang belakang.
Baca Juga: Mahfud MD Ungkap Sisi Lain RUU Perampasan Aset: Bisa Bikin Investor Asing Lebih Percaya
Abses otak juga dapat terjadi ketika bakteri mencapai jaringan otak melalui aliran darah, infeksi di sekitar kepala, atau luka tertentu.
Karena letaknya berada di dalam tubuh, abses internal lebih sulit dikenali hanya dari tanda fisik.
Gejalanya Tak Selalu Berupa Benjolan
Keluhan yang muncul akan mengikuti lokasi abses.
Pada abses internal, misalnya, penderita dapat mengalami demam, berkeringat lebih banyak, rasa tidak nyaman, nyeri, menggigil, serta kehilangan nafsu makan.
Baca Juga: DPR Emang Keren, RUU Perampasan Aset 11 Tahun dan 5 Kali Diajukan dan Sempat Dihilangkan
Keluhan tertentu juga bisa menjadi petunjuk mengenai lokasi infeksi.
Abses hati dapat berkaitan dengan kondisi kulit atau mata yang menguning, sedangkan abses di sekitar paru-paru dapat memicu batuk atau sesak napas.
Rasa sakit atau pembengkakan pada perut serta penurunan berat badan juga dapat muncul pada sebagian kasus.
Nah, perbedaan gejala ini membuat abses di dalam tubuh tidak selalu mudah dikenali.
Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab dan lokasi masalahnya.
Ada Faktor yang Membuat Risikonya Lebih Tinggi
Selain diabetes dan gangguan sistem kekebalan, sejumlah kondisi lain dapat meningkatkan risiko abses.
Paparan lingkungan yang kurang bersih, kebersihan yang buruk, serta kontak dengan orang yang mengalami infeksi kulit tertentu termasuk faktor yang perlu diperhatikan.
Untuk abses di sekitar tulang belakang, risikonya dapat meningkat pada orang yang pernah mengalami cedera punggung, memiliki bisul di punggung yang tidak ditangani, atau terpapar penggunaan obat suntik yang tidak steril.
Artinya, lokasi abses juga ikut menentukan faktor risiko yang perlu dicermati.
Baca Juga: Honda Daya Jayadi Racing Team Siap Berlaga di Ajang Motoprix Subang 2026
Jangan Asal Memencet
Salah satu hal penting adalah tidak menganggap semua benjolan bernanah bisa ditangani sendiri.
Penanganan abses bergantung pada penyebab, ukuran, lokasi, serta tingkat infeksinya.
Sebuah penelitian yang dimuat dalam Health Social Care Community terhadap 494 orang yang menyuntikkan obat menemukan bahwa 67 persen partisipan pernah mengalami abses dan 23 persen mengalaminya dalam tiga bulan terakhir.
Baca Juga: Halte Palmerah Kembali Dibuka, Transjakarta Mulai Beroperasi Normal Hari Ini
Penelitian tersebut juga menunjukkan hanya sebagian peserta yang mencari pertolongan medis.
Temuan ini memperlihatkan pentingnya akses terhadap layanan kesehatan dan edukasi mengenai infeksi kulit serta jaringan lunak.
Terlebih jika abses disertai demam, nyeri yang semakin berat, pembengkakan yang meluas, atau muncul di lokasi yang berisiko seperti otak, tulang belakang, maupun organ dalam.
Pemeriksaan dokter dapat membantu memastikan apakah benjolan tersebut benar-benar abses dan menentukan penanganan yang sesuai.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Jadi Tuntutan Demo 27 Agustus 2026, Apa Dampaknya bagi Rakyat Kecil?
Tubuh sebenarnya sering memberikan sinyal ketika sedang melawan infeksi.
Benjolan kecil yang terasa nyeri mungkin terlihat sederhana, tetapi jangan buru-buru diabaikan.
Mengenali tanda-tandanya lebih awal dan mendapatkan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.***




