POJOKSATU.id - Sakit kepala menjadi keluhan yang hampir pernah dialami setiap orang.

Namun, lokasi nyeri yang muncul bisa berbeda-beda.

Salah satu yang cukup sering terjadi adalah sakit kepala belakang, yaitu rasa nyeri yang muncul di bagian belakang kepala hingga menjalar ke tengkuk atau leher atas.

Meski sering dianggap sepele, kondisi ini ternyata bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari ketegangan otot hingga gangguan saraf.

Baca Juga: Cuci Uang

Sakit kepala bagian belakang merupakan nyeri yang terlokalisasi di area belakang kepala, termasuk tengkuk dan leher bagian atas.

Intensitasnya bisa ringan hingga berat, muncul secara perlahan maupun mendadak, bahkan pada sebagian orang dapat berlangsung berulang atau menjadi kronis.

Gejala Sakit Kepala Belakang
Gejala yang muncul dapat berbeda pada setiap orang, tergantung penyebab yang mendasarinya.

Beberapa keluhan yang umum dirasakan antara lain nyeri berdenyut atau terasa menekan di belakang kepala, nyeri yang menjalar ke leher, bahu, atau dahi, serta otot leher yang terasa kaku dan tegang.

Baca Juga: Mengapa Lulusan S1 Tidak Bisa Langsung Jadi Guru Profesional? Ternyata Ini Alasannya Perlu Ikut PPG

Selain itu, sebagian penderita juga mengalami sensitivitas terhadap cahaya atau suara, mual hingga muntah, pusing, vertigo, sampai kepala terasa ringan.

Jika keluhan berlangsung terus-menerus atau disertai gejala yang mengganggu aktivitas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

Penyebab Sakit Kepala Belakang yang Perlu Diwaspadai

1. Sakit kepala exertional
Sakit kepala exertional muncul setelah melakukan aktivitas fisik yang berat, seperti berlari, batuk, mengejan saat buang air besar, maupun berhubungan intim.

Baca Juga: Penuhi Amanat Undang-Undang, Ditjen GTK Jelaskan Alasan Utama PPG Calon Guru Tetap Dibuka

Rasa nyeri biasanya muncul di bagian belakang kepala, belakang mata, atau menyebar ke seluruh kepala.

Umumnya berlangsung sekitar 20 menit dan tidak selalu menandakan penyakit serius.

Namun, pada sebagian kecil kasus, kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah di otak sehingga perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut apabila sering terjadi.

2. Sakit kepala tegang
Sakit kepala tegang menjadi salah satu penyebab paling umum. Kondisi ini sering dipicu oleh stres, kurang tidur, rasa lapar, maupun ketegangan otot.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih! Simak Aturan Pemilihan Lokasi dan Bidang Studi PPG Calon Guru 2026

Keluhannya berupa sensasi tertekan atau kencang di dahi maupun belakang kepala yang dapat berlangsung selama 30 menit hingga beberapa hari.

Pada sebagian orang, sakit kepala tegang dapat muncul berulang hingga lebih dari 15 hari dalam satu bulan apabila sudah berkembang menjadi kronis.

3. Sakit kepala harian kronis
Sesuai namanya, jenis sakit kepala ini terjadi hampir setiap hari selama tiga bulan atau lebih. Wanita diketahui lebih sering mengalaminya.

Riwayat cedera leher maupun kelelahan berkepanjangan dapat menjadi pemicunya.

Baca Juga: CASIO Indonesia Buka Lowongan Moderator Webinar Series, Intip Benefit dan Cara Daftarnya!

Saat kambuh, otot leher biasanya terasa menegang sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman di leher dan belakang kepala.

Penanganan yang sering dianjurkan adalah fisioterapi untuk membantu mengurangi ketegangan otot.

4. Migrain basilar
Berbeda dengan migrain yang umumnya menyerang satu sisi kepala, migrain basilar lebih sering menimbulkan nyeri di bagian belakang kepala.

Pada tahap awal, gejalanya dapat berupa pandangan kabur, kebutaan sementara, pusing, telinga berdenging, hingga kesulitan berbicara atau mendengar.

Baca Juga: Limbah Kulit Lemon Disulap Jadi Alat Belajar Sains, Siswa Madrasah Ini Raih Gold Medal IICYMS 2026

Meski tidak selalu menyebabkan kelemahan tubuh, migrain basilar tidak boleh diabaikan karena pada kondisi tertentu dapat berkaitan dengan risiko stroke.

5. Neuralgia oksipital
Neuralgia oksipital terjadi ketika saraf oksipital yang membentang dari pangkal leher menuju kepala mengalami iritasi atau tekanan.

Penyebabnya dapat berupa cedera, peradangan, maupun saraf yang terjepit.

Baca Juga: SDN di Ciamis Hanya Dapat 1 Murid Baru, Banyak Sekolah Negeri Sepi Peminat, Ini Kata Mendikdasmen dan DPR RI

Nyeri yang muncul sering disalahartikan sebagai migrain, padahal sensasinya lebih khas, yakni seperti tersengat listrik, tajam, dan menusuk di kepala maupun leher.

6. Postur tubuh yang buruk
Kebiasaan duduk membungkuk, terlalu lama menatap layar, atau posisi tubuh yang kurang ergonomis juga dapat memicu sakit kepala belakang.

Postur tubuh yang kurang baik menyebabkan otot leher dan punggung bekerja lebih keras sehingga menimbulkan ketegangan yang akhirnya memicu rasa nyeri di belakang kepala.

Baca Juga: SPP SMA-SMK Negeri di Jabar Bakal Berlaku Lagi? Wacana Dibahas Pansus DPRD, Begini Kata Dedi Mulyadi

7. Sakit kepala cluster
Sakit kepala cluster juga dapat menjadi penyebab nyeri di bagian belakang kepala.

Kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada area leher dan dapat membuat keluhan terasa semakin berat, terutama saat berbaring.

Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah Sakit Kepala Belakang

Beberapa kebiasaan sederhana dapat membantu mengurangi risiko sakit kepala belakang, antara lain menjaga postur tubuh saat duduk maupun berdiri, rutin melakukan peregangan dan olahraga, mengelola stres melalui yoga atau meditasi, tidur yang cukup setiap malam, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh setiap hari.

Baca Juga: Raih Penghargaan IDEAS 2026, Kemendikdasmen Dinilai Sukses Terapkan Komunikasi DEI dan ESG di Media Sosial

Jika sakit kepala belakang tidak kunjung membaik, semakin sering muncul, atau disertai gejala seperti gangguan penglihatan, muntah hebat, kesulitan berbicara, hingga kelemahan anggota tubuh, segera lakukan pemeriksaan ke dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.

Sakit kepala belakang memang sering dianggap sebagai keluhan biasa.

Namun, mengenali penyebab dan gejalanya sejak dini bisa menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Jangan menunggu sampai rasa nyeri mengganggu kualitas hidup, karena perhatian kecil terhadap kesehatan hari ini dapat menjadi investasi besar bagi masa depan.***