POJOKSATU.id – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah rawan dengan mengerahkan puluhan pesawat untuk mendukung operasi udara, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC).
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan total 52 pesawat telah dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas di Sumatra dan Kalimantan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 pesawat beroperasi di wilayah Kalimantan, sementara 22 lainnya ditempatkan di Sumatra.
“Dari jumlah tersebut, 30 pesawat beroperasi di wilayah Kalimantan dan 22 pesawat di wilayah Sumatra,” kata Teddy, dikutip pojksatu.id dari JPNN, Sabtu (22 agustus 2026).
Lima Pesawat TNI AU Dikirim ke Kalimantan
Penguatan operasi udara dilakukan setelah lima pesawat TNI Angkatan Udara diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur pada Jumat (21/8).
Kelima pesawat tersebut akan memperkuat 30 armada BNPB yang sebelumnya telah beroperasi di tiga provinsi terdampak karhutla di Kalimantan.
“Lima pesawat TNI AU kembali diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat 30 armada BNPB yang telah beroperasi di tiga provinsi terdampak di Kalimantan,” ujar Teddy.
Selain pesawat yang diberangkatkan ke Kalimantan, TNI AU juga menyiagakan sejumlah armada di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Baca Juga: TNI Makin 'Kuasai' Ruang Sipil, BRIN Ingatkan Batas Kekuasaan Reformasi Militer Belum Tuntas
Pesawat tersebut dapat digerakkan sewaktu-waktu berdasarkan kebutuhan BNPB dan perkembangan kondisi karhutla di lapangan.
Enam Provinsi Jadi Prioritas
Operasi penanganan karhutla dengan dukungan udara tersebut mencakup enam provinsi yang dinilai memiliki potensi kebakaran tinggi.
Wilayah tersebut terdiri dari Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.
BNPB sebelumnya menyatakan operasi udara dilakukan melalui sejumlah metode, termasuk OMC, patroli udara, serta water bombing. Secara keseluruhan, BNPB mengerahkan 39 unsur udara di enam provinsi prioritas.
Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan operasi darat untuk mencegah titik api meluas.
Baca Juga: Bukan cuma Karhutla, Sungai Kapuas Surut Air Laut Masuk Ancam Air Bersih Warga Kalbar
Cuaca Kering Jadi Tantangan
Penguatan OMC dilakukan di tengah kondisi cuaca yang masih relatif kering.
BMKG mencatat kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.
BMKG sebelumnya memprediksi fenomena El Niño bertahan hingga awal 2027 dengan intensitas yang dapat mencapai kategori sangat kuat.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan operasi udara.
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemantauan titik panas, serta koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan masyarakat.
Prabowo Turun Langsung ke Kalimantan
Penguatan operasi udara ini berlangsung bersamaan dengan langkah Presiden Prabowo Subianto yang turun langsung menangani karhutla di Kalimantan.
Pada Sabtu (22 agustus 2026), Prabowo bertolak menuju Kalimantan untuk meninjau lokasi karhutla sekaligus memimpin langsung penanganan di sejumlah wilayah terdampak.
Sebelumnya, Prabowo telah memberikan instruksi kepada jajaran TNI dan Polri untuk bekerja bersama pemerintah daerah dan masyarakat menangani karhutla di empat provinsi Kalimantan.
Pemerintah juga menegaskan bahwa penegakan hukum akan dilakukan apabila ditemukan pelanggaran dalam kasus kebakaran hutan dan lahan.
Dengan tambahan armada udara dan keterlibatan langsung Presiden, pemerintah kini memperkuat strategi penanganan karhutla dari udara sekaligus darat.
Tantangannya adalah memastikan operasi tersebut mampu menekan titik api di tengah musim kemarau dan kondisi iklim yang masih mendukung munculnya kebakaran.



