POJOKSATU.ID – Suasana belajar di sejumlah sekolah di Bogor Selatan berubah tegang pada Kamis pagi.
Satu per satu siswa mengeluh mual, muntah, dan pusing setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan di sekolah.
Dalam hitungan menit, jumlah siswa yang mengalami gejala serupa bertambah hingga mencapai 50 orang.
Baca Juga: Polsek Rengasdengklok Tangkap Dua Pencuri Motor, Satu Pelaku Masih DiburuBaca Juga: Polsek Rengasdengklok Tangkap Dua Pencuri Motor, Satu Pelaku Masih Diburu
Guru dan tenaga kesehatan sekolah panik, sementara para orangtua mulai berdatangan menanyakan kondisi anak mereka.
Insiden ini terjadi di beberapa sekolah, termasuk SDN Batutulis 3, SDN Batutulis 2, SD Lawang Gintung 2, hingga SMK PUI.
Seluruh sekolah tersebut berada di wilayah distribusi penyelenggara MBG SPPG Batutulis 08.
Menu yang diberikan pagi itu terdiri dari ayam bakar, sayuran, dan lauk pendamping lain.
Salah satu guru mengungkapkan bahwa sebelum makanan disantap, ia sempat mencium bau tak sedap pada bagian bawah daging ayam.
Baca Juga: Tarif LRT Bakal Naik, Pengamat Transportasi Singgung Harga yang Terlalu MahalBaca Juga: Tarif LRT Bakal Naik, Pengamat Transportasi Singgung Harga yang Terlalu Mahal
Namun karena belum terlihat tanda perubahan warna pada menu lain, makanan tetap dibagikan. Beberapa siswa mengaku baru merasakan rasa aneh setelah beberapa suap.
Tidak lama kemudian, keluhan mual mulai muncul, diikuti muntah dan pusing.
Bahkan sejumlah siswa mengalami BAB berlendir hingga berdarah, menunjukkan dugaan kontaminasi makanan cukup kuat.
Dinas Pendidikan Kota Bogor langsung turun ke lokasi. Kepala Dinas, Herry Karnadi, menyebutkan bahwa 50 siswa mengalami gejala keracunan.
Sebagian besar ditangani di puskesmas terdekat, sementara satu siswa harus dirujuk ke rumah sakit untuk observasi lebih lanjut. “Kami fokus memastikan semua anak mendapatkan penanganan cepat,” ujarnya.
Baca Juga: Kebijakan Baru TKA Jenjang SMP dan SMA: Apa yang Perlu Siswa dan Orang Tua Ketahui?
Dinas Kesehatan Kota Bogor juga bergerak melakukan pemeriksaan makanan dan mengambil sampel untuk uji laboratorium.
Kepala Dinkes, Sri Nowo Retno, menyatakan bahwa gejala yang muncul sangat cepat hanya 10 hingga 30 menit setelah konsumsi.
Ini menunjukkan adanya kemungkinan kontaminasi pada menu tertentu. Namun hasil pasti menunggu pemeriksaan lab, jelasnya.
Sementara itu, pihak penyelenggara MBG, SPPG Batutulis 08, mengatakan proses dapur telah mengikuti standar higienitas.
Baca Juga: Kota Bogor Tindak Tegas Penunggak Pajak, 10 Lokasi Dipasangi Plang Tunggakan
Mereka mengaku tidak mengetahui sumber masalah dan saat ini sedang melakukan evaluasi internal.
Kendati demikian, pernyataan tersebut belum meredakan keresahan para orangtua.
Kasus dugaan keracunan ini kembali memicu sorotan terhadap kualitas penyelenggaraan program MBG.
Program yang seharusnya memastikan anak-anak mendapatkan nutrisi layak justru beberapa kali tersandung masalah keamanan pangan di berbagai daerah.
Banyak pihak menilai perlu adanya pengawasan lebih ketat terhadap dapur penyedia, termasuk pengecekan bahan baku dan cara penyimpanan makanan sebelum distribusi.
Baca Juga: Target MBG Masih Jauh, BGN Minta SPPG di Karawang Dipercepat
Di sisi lain, sekolah juga diminta lebih berhati-hati.
Bila tercium bau tidak wajar atau terdapat perubahan warna pada makanan, guru disarankan menunda pembagian dan segera melapor pada koordinator MBG.
Langkah pencegahan sederhana ini bisa mengurangi risiko kejadian serupa.
Hingga artikel ini ditulis, hasil uji sampel makanan belum dirilis.
Namun penanganan terhadap siswa terus berlangsung, dan pihak berwenang memastikan kasus ini ditindak serius.
Program MBG tetap dianggap penting, tetapi tak boleh mengesampingkan keselamatan anak-anak yang menjadi sasaran utama.***




