POJOKSATU.ID- Keracunan massal terjadi ke puluhan warga usai menyantap makanan berkat pengajian di Bengetayu Wetan Semarang justru terkapar dengan keluhan mual, muntah, dan diare.
Ketua RT setempat, Muhammad Handoyo, menuturkan Jumat (12/9) malam, acara berjalan biasa.
Warga bergotong royong memasak, lalu sekitar habis waktu sholat Isya membagikan nasi kotak.
“Awalnya lancar, tapi sekitar jam 1 sampai 2 dini hari banyak warga yang mengeluh sakit perut dan langsung dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.
Sabtu (13/9) pagi, tim medis bersama ambulans gawat darurat berdatangan ke lokasi.
Baca Juga: Xiaomi Rilis HyperOS Terbaru, Intip Daftar HP yang Kebagian Update Minggu Ini
Sweeping pun dilakukan pagi harinya untuk mendata warga yang masih sakit namun belum sempat ditangani.
“Dari catatan kami, ada 35 warga yang mengalami gejala keracunan. Dugaan sementara dari menu sambal goreng hati,” tambah Handoyo.
Ia menambahkan tradisi bancakan mendak setahun yang seharusnya mempererat silaturahmi, mendadak jadi duka bersama.
"Warga berharap kejadian serupa tak terulang lagi" harapnya dikutip radar semarang
Salah satu korban, Tri Nuryanti, mengaku mulai merasakan gejala sekitar pukul 02.00.
Baca Juga: Mengenal Nano Banana, Fitur Unik di Gemini 2.5 Flash yang Bikin Kreativitas Makin Bebas
“Perut mual, muntah terus, diare. Sampai sekarang masih lemas,” ungkapnya.
Dari berkat yang disantap, ia hanya ingat ada lauk sambal goreng ati.
“Saya dan ibu kena, anak saya alhamdulillah sehat,” lanjutnya.
Camat Genuk, Pranyoto, memastikan penanganan cepat dilakukan.
“Ada 35 warga yang terdampak, sebagian besar sudah mendapat perawatan di RSUD Wongsonegoro dan puskesmas. Tiga orang masih dirawat. Kami terus pantau bersama RT, RW, lurah, dan dokter puskesmas,” jelasnya.
Hingga Sabtu (13/9) siang, sampel makanan sudah dikirim ke laboratorium kesehatan untuk memastikan penyebab.
“Indikasi awal dari sambal goreng hati, tapi kepastiannya masih menunggu hasil lab,” kata Kepala Puskesmas Bangetayu, dr. Yuni Susanti.
Ia menegaskan, semua pasien mengalami gejala serupa. Yakni muntah, diare, dan perut melilit.
Tingkat keparahannya bervariasi, dari cukup diberi obat hingga harus rawat inap karena dehidrasi.
“Yang penting, warga harus lebih hati-hati saat mengolah makanan hajatan. Kebersihan bahan, cara masak, dan penyimpanan harus diperhatikan betul,” pesannya.***



