POJOKSATU.id - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, memberikan klarifikasi terkait insiden yang terjadi dalam acara diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang berlangsung Senin malam (15/6/2026).

Sudaryono menegaskan dirinya bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko datang ke UGM dengan niat berdialog secara terbuka dan demokratis dengan mahasiswa.

"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus.

Baca Juga: Grammy Awards 2027 Tambah Kategori Baru untuk Asian Pop, Fans BTS Naikkan Tagar 'Scammys', Tuding Penghargaan Musik Bergengsi Itu Rasis dan Xenofobia

Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujar Sudaryono dalam keterangan pers.

Sudaryono menjelaskan sejak awal dirinya dan para narasumber membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa, untuk bertanya maupun mengkritik kebijakan pemerintah.

"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," katanya.

Namun, di tengah jalannya forum, Sudaryono menyebut terdapat sekelompok peserta yang tidak menginginkan diskusi dilanjutkan sehingga situasi menjadi tidak kondusif.

Baca Juga: 5 Cara Mudah Pesan Tiket Kereta Jogja Bandung Online

"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan.

Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.

Sudaryono mengaku tetap bertahan di lokasi bersama Nusron Wahid karena meyakini dialog merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.

Baca Juga: Galaxy A57 5G dan Galaxy A37 5G Hadir dengan AI Canggih, Bikin Bikin Konten dan Produktivitas Makin Mudah

Namun, kata dia, situasi semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.

Wamentan Mengaku Ada Pelemparan Air
Terpisah, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memberikan keterangan terkait ricuh diskusi di UGM.

Ia mengatakan niatnya melanjutkan diskusi, namun situasi disebut semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.

Baca Juga: Memahami Perbedaan Big Bike dan Motor Biasa, Kunci Berkendara Lebih Aman

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," katanya lagi.

Ia menegaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap kritik dan menjunjung tinggi demokrasi.

"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.

Sudaryono membantah anggapan dirinya bersama rombongan meninggalkan lokasi karena menghindari dialog.

Baca Juga: PDIP Merasa Difitnah Aliansi BEM Bersatu Terkait Aksi Mahasiswa Marak Menolak Program MBG

"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi.

Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.

Siap Cek Langsung Persoalan Agraria
Dalam diskusi spontan tersebut, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terkait isu pertanahan dan dugaan penggusuran.

Menurut Sudaryono, dirinya terbuka untuk memverifikasi langsung setiap persoalan yang disampaikan.

Baca Juga: Netanyahu Buka Suara soal Damai AS-Iran, Tegaskan Israel Tak Akan Biarkan Ancaman Nuklir

"Kalau memang ada penggusuran atau persoalan agraria tertentu, ayo kita cek bersama. Saya bahkan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya," kata Sudaryono.

Sudaryono menegaskan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap kritik dan menjunjung tinggi demokrasi.

"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.

Sudaryono juga menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang telah hadir dengan niat berdiskusi, namun tidak dapat mengikuti forum secara optimal akibat situasi yang terjadi.

Baca Juga: Apa Itu LPS? Kenali Fungsi, Batas Penjaminan, dan Manfaatnya bagi Nasabah Bank

"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," katanya.

Terakhir, Sudaryono menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat.

"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.

Kronologi Kericuhan di Forum UGM
Sebelumnya, mahasiswa menggeruduk tiga pejabat negara saat menjadi pembicara Kopdar X NYL Bareng Mas Dar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas Universitas Gadjah Mada (GIK UGM), Sleman, Senin (15/6/2026).

Baca Juga: Kalender Pendidikan Madrasah 2026-2027 Resmi Terbit, Catat Jadwal Masuk Sekolah, Libur Semester, hingga Ujian Madrasah

Aksi mahasiswa ini sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemerintah.

Tiga pejabat yang digeruduk mahasiswa yaitu Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko.

Insiden tersebut terjadi ketika forum masih berjalan sekitar pukul 20.20 WIB.

Baca Juga: Warga Karawang Kompak Minta Program MBG Dilanjutkan, Bupati Aep: Jika Ada Oknum Nakal Langsung Laporkan!

Saat itu narasumber telah selesai menyampaikan materi mereka. Budiman sempat mengajak mahasiswa menyampaikan kritik langsung melalui forum, bukan melalui media sosial.

“Silahkan kritik kami di sini, jangan di media sosial,” ucap Budiman.

Dialog buntu, amarah mahasiswa pun memuncak dalam diskusi tersebut. Puluhan mahasiswa naik ke atas panggung.

Mereka membentangkan sejumlah spanduk berisi penolakan terhadap para pembicara. Sejumlah tulisan terlihat "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Aksi tersebut membuat diskusi di ruangan dihentikan. Situasi semakin memanas saat terjadi aksi lempar gelas plastik air mineral di area forum.

Baca Juga: Pahami Perbedaan Sekolah Nasional Terintegrasi, Sekolah Rakyat, dan Sekolah Garuda, Ini Sasaran dan Tujuannya

Panitia dan sejumlah petugas berusaha menenangkan, namun massa terus memadati sekitar panggung.

Ketiga pejabat negara kemudian dievakuasi keluar dari area Joglo GIK. Meski demikian, ratusan mahasiswa sudah berkumpul di luar dan menghadang mereka.

“Budiman, mana Budiman!,” teriak sejumlah mahasiswa.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik karena memperlihatkan memanasnya dinamika dialog antara mahasiswa dan pemerintah.

Di tengah perbedaan pandangan yang mengemuka, insiden ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang diskusi publik di kampus masih menjadi arena penting untuk menyampaikan kritik, aspirasi, dan respons terhadap kebijakan negara. ***