POJOKSATU.id- Nama Chanee Kalaweit kembali menjadi sorotan setelah pengakuannya soal tekanan dan pembatasan dari kementerian terdahulu viral di media sosial.

Namun di balik pernyataan itu, ada perjalanan hidup yang jauh lebih panjang dan mengagumkan

Kisah seorang remaja Prancis yang memilih Indonesia sebagai rumah perjuangannya selama hampir tiga dekade.

Baca Juga: Mahasiswa PTDI-STTD Belajar Teknologi Kendaraan Listrik di BRIN Serpong, Ini Pengalaman Lengkapnya

Chanee, yang memiliki nama asli Aurélien Francis Brulé, lahir pada 2 Juli 1979 di Fayence, Prancis. Kecintaannya pada alam muncul sejak usia belia.

Pada umur 12 tahun, ia mulai meneliti perilaku gibbon (owa), salah satu primata paling terancam di Asia Tenggara.

Ketertarikannya begitu mendalam hingga di usia 16 tahun ia menerbitkan buku ilmiah berjudul Le Gibbon à mains blanches.

Baca Juga: Jangan Salah! Ini Usia Pensiun PPPK Paruh Waktu yang Sebenarnya Berdasarkan UU ASN 2023!

Buku itu mempertemukannya dengan para ahli konservasi dan menjadi pintu awal perjalanan besar yang akan mengubah hidupnya.

Pada tahun 1998, ia memutuskan pindah ke Indonesia.

Saat itu, ia mengunjungi Kalimantan dan menyaksikan langsung dampak deforestasi, perdagangan satwa, serta fragmentasi habitat yang jauh lebih parah dari yang ia bayangkan.

Dari situ lahirlah keputusan besar tinggal dan berjuang di Indonesia untuk melindungi gibbon dan hutan.

Baca Juga: Viral! Aktivis Kalaweit Akhirnya Bongkar 9 Tahun Dicuekin, Ditekan, hingga Dilarang Posting oleh Kementerian Kehutanan!

Setahun kemudian, 1999, ia mendirikan Yayasan Kalaweit, yang kini dikenal sebagai pusat konservasi gibbon terbesar di dunia.

Program Kalaweit tidak hanya menyelamatkan satwa yang disita aparat, tetapi juga melakukan rehabilitasi.

Pelepasliaran, patroli hutan, restorasi habitat, hingga pembelian hutan untuk dijadikan kawasan konservasi.

Hingga 2025, Kalaweit telah, mengamankan ribuan hektare hutan di Sumatra dan Kalimantan serta merawat dan menyelamatkan ratusan gibbon dan primata lainnya.

Baca Juga: Mahasiswa PTDI-STTD Belajar Teknologi Kendaraan Listrik di BRIN Serpong, Ini Pengalaman Lengkapnya

 

Hinga melibatkan masyarakat lokal dalam konservasi dan serta menjadi rujukan internasional dalam penyelamatan satwa liar.

Chanee bahkan resmi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada 2012.

Mempertegas komitmennya bahwa perjuangan ini bukan sekadar proyek sementara, melainkan jalan hidup.

Namun perjalanan panjang ini bukan tanpa rintangan. Dalam video terbarunya, Chanee mengungkap pengalaman pahit yang jarang ia ceritakan.

Baca Juga: Viral! Aktivis Kalaweit Akhirnya Bongkar 9 Tahun Dicuekin, Ditekan, hingga Dilarang Posting oleh Kementerian Kehutanan!

Ia menyebut selama 9 tahun di bawah kepemimpinan menteri terdahulu, Kalaweit bukan hanya diabaikan, tetapi juga mengalami tekanan.

Ia mengatakan secara langsung:

“Kami ditekan, perizinan kami tidak diperpanjang, dan bahkan kami dilarang post di media sosial hal-hal yang tidak disukai oleh kementerian tentang konservasi.”

Chanee juga menegaskan bahwa dialog antara NGO dan kementerian pada saat itu “hampir terputus.”.

Baca Juga: Mahasiswa PTDI-STTD Belajar Teknologi Kendaraan Listrik di BRIN Serpong, Ini Pengalaman Lengkapnya

Bagi organisasi yang setiap hari melihat kerusakan di lapangan, kehilangan akses dialog berarti kehilangan kesempatan memperjuangkan solusi.

Namun dalam setahun terakhir, situasi berubah.

Menteri Kehutanan baru datang langsung ke lokasi Kalaweit, melihat kerusakan hutan dari udara, berdiskusi empat mata, dan membuka ruang komunikasi yang selama ini tertutup.

Baca Juga: Viral! Aktivis Kalaweit Akhirnya Bongkar 9 Tahun Dicuekin, Ditekan, hingga Dilarang Posting oleh Kementerian Kehutanan!

Bagi Chanee, momen itu adalah sejarah pertama kalinya dalam 27 tahun suara Kalaweit benar-benar didengar di tingkat kementerian.

Dengan rekam jejak panjang, dedikasi tanpa henti, dan komitmen pribadi yang mengesankan, Chanee bukan hanya aktivis.

Ia adalah gambaran bahwa perjuangan terhadap alam membutuhkan keteguhan hati, keberanian bicara.

Baca Juga: Mahasiswa PTDI-STTD Belajar Teknologi Kendaraan Listrik di BRIN Serpong, Ini Pengalaman Lengkapnya

Dan kesetiaan terhadap sebuah tanah yang akhirnya ia sebut sebagai rumah yaitu Indonesia.***