POJOKSATU.ID - Di tengah kelumpuhan birokrasi dan lambatnya respon pemerintah terhadap bencana di Sumatra, sebuah fenomena justru membuat publik tercengang.

Influencer Ferry Irwandi sukses menggalang dana Rp10,3 miliar hanya dalam 24 jam, jauh melampaui target awal Rp500 juta.

Angka fantastis itu berasal dari lebih dari 87 ribu donatur, sebuah capaian yang ironisnya tidak pernah bisa dicapai negara dalam tempo yang sama.

Melalui akun @irwandiferry, ia mengumumkan bahwa dana yang terkumpul langsung dialokasikan untuk kebutuhan mendesak para penyintas.

Baca Juga: Mensesneg Prasetyo Hadi Bilang Bantuan Luar Belum Diperlukan, Warga Terisolasi, Pemerintah Masih Gengsi Terima Bantuan Asing?

Tanpa rapat bertele-tele, tanpa prosedur berlapis, tanpa menunggu tanda tangan pejabat.

Sementara sejumlah wilayah masih terisolasi dan bantuan pemerintah disebut “masih dalam proses”, tim Ferry sudah turun ke lapangan.

Bantuan yang dihimpun masyarakat itu telah disalurkan ke Aceh mulai dari Tamiang, Langsa, hingga Samuti Rayeuk.

Di Sumatera Utara, donasi mengalir ke Tapanuli Selatan, Sibolga, Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan titik-titik terdampak lain.

Baca Juga: Posyandu Banten Siap Tancap Gas! Tinawati Dorong Sinergi Besar untuk Wujudkan 6 SPM sampai Tingkat Desa

Bahkan wilayah Agam di Sumatera Barat ikut merasakan distribusi cepat itu.

Bandingkan dengan laporan resmi pemerintah yang masih berkutat pada rapat koordinasi, pemetaan jalur, hingga birokrasi distribusi logistik.

Sementara itu, masyarakat justru menyaksikan sendiri bagaimana bantuan dari influencer sampai lebih dulu ke lokasi bencana.

Ferry menegaskan bahwa semua penggunaan dana akan diperbarui secara berkala.

Transparansi dilakukan secara terbuka, dari bukti pembelian, dokumentasi distribusi, hingga penyaluran bantuan.

Publik dapat memantau kapan saja, tanpa harus menunggu konferensi pers.

Fenomena ini membuat banyak netizen menyindir.

“Influencer kerja, negara baru sadar.”

Baca Juga: Posyandu Banten Siap Tancap Gas! Tinawati Dorong Sinergi Besar untuk Wujudkan 6 SPM sampai Tingkat Desa

“Kalah cepat sama orang biasa, padahal negara punya anggaran triliunan.”

“Kalau bencana, yang duluan datang itu warganet, bukan pejabat.”

Sindiran itu tidak datang tanpa alasan. Beberapa wilayah terdampak masih melaporkan minimnya distribusi bantuan resmi.

Logistik pemerintah datang dalam ritme lambat, sementara antrean panjang dan kelaparan massal sempat terjadi di berbagai titik.

Baca Juga: RSUD Berkah Pandeglang Siapkan Layanan Ring Jantung, NICU Jadi Andalan Pasien Rujukan

Kontras dengan hal itu, kampanye Ferry justru bergerak secepat daruratnya situasi. Dalam 24 jam, publik memberikan kepercayaannya tanpa ragu.

Sementara pemerintah masih berkutat pada persoalan teknis dan koordinasi lintas kementerian.

Penggalangan dana Ferry membuktikan dua hal.

Pertama, masyarakat kini lebih percaya pada aksi nyata daripada janji institusi.

Kedua, negara kini kalah cepat, kalah responsif, bahkan kalah empati dibanding influencer di media sosial.

Kondisi ini tentu menjadi ironi tersendiri. Di saat negara memiliki struktur, anggaran, dan kekuatan penuh.

Justru rakyat biasa yang mengambil alih peran sebagai penolong tercepat.

Sebuah pukulan telak bagi instansi yang seharusnya berdiri paling depan dalam mitigasi bencana.

Baca Juga: Profesionalisme Guru Tinggi, Profesionalisme Pengelolaan TPG Masih Rendah, Sampai Kapan?

Ferry sendiri memilih merespons dengan rendah hati. Ia berterima kasih kepada semua donatur dan memastikan distribusi dilakukan seefektif mungkin.

Namun di balik itu, publik bertanya-tanya, Mengapa influencer bisa lebih sigap daripada pemerintah?***

Pertanyaan itu menggantung keras di tengah bencana dan jawabannya, sampai sekarang, belum terdengar dari para pemegang kekuasaan.