POJOKSATU.id – Nama Aryanto Misel kembali muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mendorong pengembangan teknologi pemadam kebakaran berbahan dasar ubi atau singkong yang kini disebut “ubi bombing”.
Ada satu fakta lama yang membuat isu ini jauh lebih menarik.
Jauh sebelum istilah ubi bombing ramai dibicarakan pada 2026, Aryanto Misel, inovator asal Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sudah mengembangkan alat pemadam api berbahan kulit singkong.
Arsip pemberitaan menunjukkan Aryanto mulai membuat inovasi tersebut sekitar 2003. Produk itu kemudian dikenal dengan nama Annaro Fire Stop.
Baca Juga: 11 BPR Ditutup OJK, Nasib Uang Nasabah Jadi Sorotan: Inilah yang Terjadi Setelah Izin Dicabut
Jadi, jika dihitung dari 2003 hingga 2026, inovasi tersebut telah melewati lebih dari dua dekade.
Namun perlu ditegaskan: belum ada keterangan resmi pemerintah yang menyatakan bahan “ubi bombing” yang dipaparkan Kapolri merupakan teknologi Aryanto Misel.
Yang terkonfirmasi adalah adanya kesamaan gagasan dalam penggunaan bahan berbasis singkong untuk membantu pemadaman api.
Pemerintah saat ini masih mendorong riset dan pengujian efektivitas teknologi tersebut.
Dari kulit singkong menjadi APAR
Aryanto sebelumnya menjelaskan bahwa ide membuat APAR organik muncul setelah dirinya melihat kebakaran di permukiman padat Jakarta.
Ia kemudian menemukan potensi potassium sitrat yang terkandung dalam kulit singkong ketika melakukan penelitian lain.
“Kalau kita punya alat pemadam api ringan, minimal sebelum api membesar bisa kita tanggulangi,” kata Aryanto dalam wawancara yang dikutip detikJabar pada 2022.
Ia kemudian mengembangkan bahan tersebut menjadi alat pemadam api.
“Keunggulan alat pemadam api dari kulit singkong ini adalah bisa memutus mata rantai reaksi pembakaran dan residunya juga bisa dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman,” ujar Aryanto.
Baca Juga: Update Daftar Daerah Sudah Cair TPG Juli-Agustus 2026, Cek Daerah Anda di Sini
Produk yang dibuatnya memiliki dua bentuk.
Pertama, model tabung, yang menggunakan bahan berbasis kulit singkong dan nitrogen bertekanan. Kedua, model bola, yang dirancang untuk dilempar ke titik api.
Pada 2022, Aryanto bahkan mengaku produk tersebut telah terjual sekitar 6.000 unit, terdiri dari ribuan tabung dan bola pemadam.
Di sinilah jejak lama Aryanto bertemu dengan isu ubi bombing yang sekarang menjadi perhatian pemerintah.
Kapolri membawa isu tepung ubi ke meja Prabowo
Dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, Senin, 24 Agustus 2026, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam berbahan baku tepung ubi atau singkong.
Menurut keterangan resmi Sekretariat Negara, bahan tersebut dinilai memiliki potensi untuk mencegah penyebaran api dengan memisahkan unsur-unsur yang mendukung proses pembakaran dan membantu pemadaman pada tahap awal.
Pemerintah kemudian meminta teknologi tersebut dikembangkan dan diuji lebih besar.
Baca Juga: Mulai Besok PPPK Mataram Masuk Sistem Absensi Digital, Ada Risiko Penghasilan Terpotong
Presiden Prabowo bahkan langsung memberikan lampu hijau untuk pengembangan produksinya.
“Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar. Ajukan biaya untuk produksinya. Kita usahakan semua upaya,” kata Prabowo dalam rapat tersebut.
Presiden kemudian menyebutnya dengan istilah yang kini viral:
“Berarti yang kita waterbomb bukan waterbomb, ubi bombing. Ubi bombing.”
RMOL juga melaporkan dorongan Prabowo untuk menguji teknologi berbahan tepung ubi tersebut sebagai alternatif dalam penanganan karhutla.
Kebetulan atau ada benang merah?
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah “ubi bombing” yang dibahas pemerintah merupakan pengembangan dari teknologi Aryanto Misel?
Jawabannya untuk saat ini: belum bisa dipastikan.
Dokumen resmi pemerintah hanya menyebut bahan berbasis tepung ubi atau singkong yang diperkenalkan Kapolri.
Tidak ada pernyataan resmi dalam keterangan tersebut yang menyebut nama Aryanto Misel sebagai pencipta atau sumber teknologi.
Baca Juga: 455 SPPG Ditutup Permanen, 3 Ribu Lebih SLHS tak Jelas, Keracunan tak Pernah Dipidana
Karena itu, mengklaim bahwa ubi bombing adalah “penemuan Aryanto yang diambil pemerintah” akan terlalu jauh.
Tetapi kemiripannya tetap layak dicatat.
Aryanto telah mengembangkan APAR berbahan kulit singkong sejak sekitar 2003. Sementara pemerintah pada 2026 tengah menguji bahan pemadam berbasis ubi atau singkong untuk membantu menangani kebakaran.
Dengan kata lain, gagasannya memiliki titik temu pada pemanfaatan material berbasis singkong untuk pemadaman api, tetapi hubungan langsung antara keduanya belum terbukti.
Ini justru menjadi pertanyaan yang lebih menarik: apakah inovasi lama dari daerah yang selama ini berjalan secara mandiri bisa kembali masuk ke radar riset nasional?
Aryanto bukan nama baru dalam inovasi kontroversial
Bagi sebagian masyarakat, nama Aryanto Misel bukanlah nama baru.
Pada 2022–2023, ia menjadi sorotan nasional setelah memperkenalkan Nikuba, perangkat yang menurut klaimnya dapat menghasilkan hidrogen dari air untuk digunakan pada kendaraan bermotor.
Aryanto pernah mempresentasikan Nikuba di hadapan Prabowo ketika Prabowo masih menjabat Menteri Pertahanan.
Dalam pemberitaan Disway pada Juli 2023, Aryanto menjelaskan kepada Prabowo bahwa air diproses melalui elektrolisis untuk menghasilkan hidrogen.
“Ini (Nikuba) yang air saya jadikan hidrogen pak,” ujar Aryanto kepada Prabowo.
Prabowo kemudian merespons dengan pertanyaan yang langsung menyentuh klaim utama teknologi tersebut.
“Berarti enggak perlu BBM lagi dong,” tanya Prabowo, sebagaimana diberitakan saat itu.
Namun kisah Nikuba juga menunjukkan mengapa klaim teknologi harus dipisahkan dari pembuktian ilmiah.
Baca Juga: Profil Gus Kikin Ketua Umum PBNU Terpilih Muktamar ke-35 Jombang, Pernah Jadi Pelaut
BRIN pada 2023 menyatakan telah melakukan asesmen awal dan menilai Nikuba membutuhkan riset lanjutan.
Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat itu mengatakan teknologi tersebut perlu dibuktikan secara saintifik.
“Itu salah satu yang sedang kita ajak supaya bisa dibuktikan secara saintifik,” kata Laksana.
Artinya, rekam jejak Aryanto memiliki dua sisi: ia merupakan inovator yang menghasilkan sejumlah prototipe, tetapi beberapa klaim teknologinya juga pernah menjadi objek perdebatan dan pengujian ilmiah.
Sekarang giliran inovasi singkong diuji negara
Perbedaan terbesar dengan kasus Nikuba adalah posisi pemerintah saat ini.
Untuk ubi bombing, Presiden Prabowo secara resmi meminta inovasi tersebut dikembangkan dan diuji dalam skala lebih besar.
Pemerintah juga meminta kebutuhan anggaran produksinya diajukan agar riset, produksi, dan pengujian efektivitas dapat dilakukan.
BRIN kemudian menjadi salah satu lembaga yang dikaitkan dengan proses pengujian.
Ini penting karena efektivitas bahan pemadam untuk kebakaran rumah tentu berbeda dengan kebutuhan pemadaman karhutla dalam skala ribuan hektare.
Baca Juga: KH Abdul Hakim Mahfudz Cicit Pendiri NU Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026-2031
Bahan yang mampu memadamkan api pada tahap awal belum otomatis terbukti efektif untuk dijatuhkan dari udara atau digunakan pada kebakaran lahan yang luas.
Karena itu, istilah ubi bombing sebaiknya untuk sementara diperlakukan sebagai gagasan atau teknologi yang sedang diuji, bukan teknologi yang sudah terbukti menggantikan water bombing.
Dari Cirebon ke meja pemerintah
Di sinilah kisah Aryanto Misel menjadi menarik.
Lebih dari dua dekade lalu, seorang warga Cirebon memanfaatkan limbah kulit singkong untuk membuat alat pemadam api.
Kini, pemerintah pusat sedang mencari alternatif material pemadam berbasis ubi atau singkong untuk menghadapi karhutla.
Apakah keduanya benar-benar terhubung?
Belum ada bukti resmi yang cukup untuk menyimpulkan demikian.
Baca Juga: Lima Kandidat Ketum PBNU Kantongi Restu Rais Aam, Musyawarah Penentuan Segera Dimulai
Tetapi satu hal sudah jelas: ide memanfaatkan singkong untuk menghadapi api bukan sesuatu yang baru muncul pada 2026.
Dan jika pemerintah serius ingin menjadikan ubi bombing sebagai teknologi nasional, sejarah inovasi Aryanto Misel layak ditelusuri kembali—bukan untuk memberi kredit secara serampangan.
Tetapi untuk memastikan apakah ada pengetahuan, formula, pengalaman uji lapangan, atau pengembangan lama yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan siapa yang pertama viral.
Yang menentukan adalah siapa yang bisa membuktikan teknologinya bekerja, aman, ekonomis, dan efektif ketika menghadapi api dalam kondisi nyata.



