POJOKSATU.ID - Kabar baik datang dari penanganan korban ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading.

Dari total 54 korban yang sempat dirawat di berbagai rumah sakit, 21 orang telah dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

Sementara itu, 33 korban lainnya masih menjalani perawatan, termasuk beberapa siswa yang harus menjalani operasi lanjutan akibat luka bakar dan cedera serius.


Kondisi Terkini Korban di Rumah Sakit

Berdasarkan data resmi dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, sebagian besar korban yang telah pulang mengalami luka ringan seperti memar, lecet, dan sesak napas akibat tekanan ledakan.

Baca Juga: Dari LHKPN ke OTT, Jejak Harta dan Jabatan Bupati Ponorogo Disorot

Namun, untuk korban dengan luka berat, perawatan intensif masih dilakukan di RS Islam Jakarta Cempaka Putih, RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, dan beberapa rumah sakit rujukan lainnya.

Empat korban yang sebelumnya menjalani operasi besar disebut dalam kondisi sadar dan stabil, namun masih harus menjalani pemulihan jangka panjang.

Tim medis juga memantau perkembangan psikologis mereka karena trauma akibat ledakan cukup berat.


Pemprov DKI Pastikan Biaya Pengobatan Ditanggung

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menegaskan kembali bahwa seluruh biaya pengobatan korban akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Baca Juga: Ratusan PNS dan PPPK Dididik, Untuk Latihan di Pusat Tempur Amborawang

Ia menegaskan tidak ada satu pun keluarga yang akan dibebankan biaya medis maupun rawat inap.

Pemprov DKI juga menurunkan tim psikolog dari RSUD Tarakan dan Dinas Sosial untuk memberikan pendampingan trauma healing bagi siswa dan guru yang mengalami shock pasca-kejadian.


Sekolah Ditutup Sementara untuk Sterilisasi

Pihak Dinas Pendidikan DKI Jakarta memastikan bahwa seluruh kegiatan belajar mengajar di SMAN 72 dihentikan sementara waktu.

Langkah ini dilakukan untuk mendukung proses penyelidikan polisi dan memberikan waktu bagi para siswa memulihkan kondisi mental.

Selama penutupan, kegiatan pembelajaran dialihkan ke sekolah terdekat dan melalui sistem daring.

Baca Juga: Jejak Diplomasi 2025, 12 Dubes Negara Sahabat Mulai Tugas di Indonesia Lewat Penyerahan Surat Kepercayaan

Guru-guru tetap diminta memantau perkembangan akademik siswa agar tidak tertinggal dalam pelajaran.


Polisi dan Densus 88 Masih Olah TKP

Tim Polda Metro Jaya dan Densus 88 Antiteror Polri masih melakukan olah TKP lanjutan untuk mengidentifikasi sumber ledakan.

Sampel bahan peledak dan serpihan benda di lokasi sudah dibawa ke Puslabfor Mabes Polri untuk dianalisis.

Baca Juga: Tak Hanya Ekspor Mentah, Indonesia Siapkan 100 Pabrik Olahan Pertanian Baru

Dari hasil penyelidikan sementara, aparat memastikan bahwa senjata api yang ditemukan di lokasi hanyalah mainan replika, bukan senjata asli.

Informasi ini diharapkan bisa meredam kepanikan publik.


Empati dari DPR dan Pemerintah Pusat

Selain dari Pemprov DKI, dukungan juga datang dari Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan.

Baca Juga: Biaya Kuliah Farmasi di PTN, Pilihan Populer Buat yang Mau Kerja di Dunia Kesehatan, Begini Cara Atur Biayanya

Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian meminta agar pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan fasilitas sekolah, termasuk ruang ibadah dan laboratorium.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) juga mengirim tim pengawasan dan psikolog pendidikan untuk mendukung pemulihan siswa SMAN 72.


Harapan Keluarga Korban

Bagi para keluarga korban, kepastian bahwa anak-anak mereka sudah mulai pulih menjadi kabar yang melegakan.

Baca Juga: Gubernur Pramono Pastikan Semua Biaya Pengobatan Korban Ditanggung Pemprov DKI pasca Ledakan SMAN 72 Jakarta

Namun sebagian besar masih berharap pihak sekolah dan pemerintah dapat memperketat pengawasan serta memperbaiki sistem keamanan di lingkungan sekolah.

Kepulangan 21 korban SMAN 72 Jakarta menjadi kabar yang memberi harapan di tengah tragedi yang mengguncang dunia pendidikan.

Namun proses pemulihan belum selesai. Masih ada puluhan korban lain yang membutuhkan waktu untuk sembuh, baik secara fisik maupun psikologis.

Langkah cepat pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam memberikan dukungan akan menjadi kunci untuk memulihkan kembali rasa aman dan kepercayaan di lingkungan sekolah.***