POJOKSATU.ID - Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman padat di Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Minggu malam.
Sebanyak 20 rumah hangus terbakar, memaksa 150 warga harus mengungsi dan meninggalkan harta benda mereka.
Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam bagi puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal hanya dalam hitungan menit.
Kebakaran terjadi di Jalan Bendungan Hilir Nomor 118, RT 13/RW 6.
Api yang cepat membesar melahap bangunan rumah berdempetan, sehingga warga tidak sempat menyelamatkan banyak barang.
Pemadam kebakaran mengerahkan 20 unit mobil damkar untuk menjinakkan si jago merah. Setelah beberapa jam, api akhirnya berhasil dipadamkan.
Meski kerugian material besar, tidak ada korban jiwa dalam insiden ini.
Warga yang terdampak langsung dievakuasi ke GOR Tanah Abang, tempat pengungsian resmi yang disiapkan pemerintah.
Sebanyak 33 KK kini menempati tempat tersebut sambil menunggu kepastian bantuan dan langkah pemulihan berikutnya.
Banyak dari mereka masih syok melihat rumah yang mereka tinggali selama bertahun-tahun kini rata dengan tanah.
Dugaan sementara, kebakaran dipicu oleh korsleting listrik, penyebab paling umum di kawasan padat penduduk Jakarta.
BPBD DKI Jakarta menyebutkan proses pendataan masih dilakukan untuk menghitung total kerugian.
Namun, kerugian dipastikan mencapai nilai besar karena banyak rumah yang habis terbakar hingga hanya menyisakan puing.
BPBD mengimbau warga Jakarta, khususnya di permukiman padat, agar lebih waspada dalam penggunaan listrik rumah tangga.
Instalasi listrik yang tidak standar, penumpukan colokan, dan kabel-kabel tua menjadi faktor besar yang meningkatkan risiko kebakaran.
Pihak pemerintah juga mengingatkan bahwa wilayah seperti Benhil membutuhkan program mitigasi dan inspeksi berkala untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Di lokasi pengungsian, bantuan sementara mulai berdatangan, mulai dari makanan, selimut, hingga layanan kesehatan.
Meski begitu, kebutuhan warga masih banyak, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Pemerintah daerah diminta mempercepat penanganan pascakebakaran agar para korban tidak terlalu lama tinggal di pengungsian.
Kebakaran di Benhil kembali membuka mata publik bahwa problem kebakaran di permukiman padat Jakarta masih sangat serius.
Korsleting listrik bukan sekadar masalah teknis, tetapi persoalan struktural yang sering diabaikan instalasi yang tidak memadai, kurangnya edukasi, hingga minimnya pengawasan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mitigasi kebakaran harus menjadi prioritas utama, terutama di wilayah dengan kepadatan tinggi.
Bagi para korban, malam itu mengubah banyak hal.
Mereka kini menunggu kejelasan terkait bantuan renovasi, relokasi, dan pendampingan pascabencana.
Sementara itu, aparat masih terus menyelidiki penyebab pasti kebakaran sembari memastikan kondisi di lokasi aman dari potensi api susulan.
Kebakaran Benhil bukan sekadar insiden lokal, tapi alarm keras bagi seluruh warga Jakarta agar waspada. Satu percikan saja bisa mengubah kehidupan puluhan keluarga.***




