POJOKSATU.id - Meski sudah 10 hari berlalu sejak gempa NTT pada 15 Agustus lalu, di Desa Mundinggasa dan Desa Natanangge, Kecamatan Maukaro, Kabupaten Ende, belum pernah ada pemeriksaan kesehatan.

Karena itu, kedatangan tim relawan Gerakan Anak Negeri untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada Selasa 25 Agustus 2026 pun disambut dengan sumringah.

Tim relawan GAN tiba di Desa Mundinggasa sekitar pukul 09.00 WITA langsung disambut kepala desa, Wenseslaus Mega.

tim GAN dibantu Bidan Puskesmas Desa Mundinggasa, Waldetrudis Kune, langsung menggelar perlengkapan pemeriksaan kessehatan di halaman rumah kepala desa.

Baca Juga: 11 Hari Usai Gempa M 7,7 Flores, Presiden Prabowo Kunjungi NTT, Korban Meninggal 105 Orang

Tenda sederhana dengan bangku yang disediakan cepat terisi penuh. Lansia hingga anak-anak.

Satu per satu antre dilakukan pengecekan atau screening awal oleh perawat RSUD Kota Bogor yang dibawa GAN, Adi Nurrohman Majid.

Setelah itu, warga dilayani Faris Maulana Irfan, dokter RSUD Kisa Depok sebelum didiagnosa dan diberikan resep.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, mayoritas warga mengeluhkan ISPA, hipertensi, hingga nyeri badan.

Baca Juga: Plt Kapusdatin BNPB Akui Video Viral, Wawancara Gempa NTT di Rumah Makan Dekat Bandara Labuan Bajo

"Faktornya bisa dipicu musim, cuaca, bisa juga karena menurunnya imun setelah gempa," terangnya.

Dokter lalu memberikan resep ke Topan Aditya, perawat Puskesmas Bogor Selatan, Kota Bogor, yang juga langganan mengabdi di lokasi bencana bersama Gerakan Anak Negeri.

Total, 146 warga terdampak gempa NTT di Desa Mundinggasa terlayani; 98 perempuan dan 48 laki-laki, termasuk banyak anak-anak.

Dua ahli pijat Cimande, Ihwan Setiawan dan M Padlillah yang turut serta juga banyak menarik minat warga.

Total, 31 orang dilayani. Bukan jumlah yang sedikit untuk hanya dua ahli pijat.

Tidak menunggu lama, relawan Gerakan Anak Negeri langsung bergeser ke Desa Natanangge yang bersebelahan dengan Desa Mundinggasa.

Kendati bersebelahan, perjalanan tetap harus ditempuh dengan kendaraan roda empat lantaran jarak yang cukup jauh.

Di desa ini, relawan GAN juga mendapat sambutan senyum sumringah warga dengan banyak warga yang sudah menunggu di lokasi.

Baca Juga: Sehari Gerakan Anak Negeri Jangkau 4 Dusun di 3 Desa Pengungsi Gempa NTT, Banyak Permintaan Warga Masih Menunggu

Warga mengaku baru kali ini tenaga medis datang ke wilayahnya usai gempa NTT yang terjadi pada 15 Agustus lalu.

"Dokter ini yang pertama datang ke sini. Sebelumnya belum pernah ada. Semua warga desa datang periksa ke sini," ungkap Maria.

Ia menuturkan, setelah gempa, banyak warga yang mengeluhkan sering capek, lemas dan susah tidur hingga cemas lantaran ketakutan dengan guncangan yang masih terus terjadi.

Warga juga masih memilih tidur di tenda yang dibangun secara mandiri di depan rumah mereka mengantisipasi gempa susulan.

Baca Juga: Ketika Senter jadi Satu-satunya Penerangan Gerakan Anak Negeri saat Berikan Layanan Kesehatan bagi Warga Terdampak Gempa NTT

"Seminggu setelah gempa ini, ada lemas, susah tidur, cemas dan panik," jelasnya.

Tak sedikit juga warga yang bersabar ingin dipijat dengan ahli refleksi dari Cimande.

20 warga terlayani hingga tenaga-tenaga terakhir mereka. Artinya, dalam sehari, per orang bisa memijat lebih dari 20 warga.

"Capek mah pasti, karena banyak banget yang minta dipijit. Tapi kita selesaikan semuanya, kasihan warga udah nunggu," ujar Kang Ihwan Setiawan yang juga langganan turun dalam aksi kemanusian.

Ia menjelaskan, mayoritas warga mengeluhkan sakit badan. Kondisi tersebut diduga dipicu oleh rasa panik usai gempa melanda.

"Saraf kejepit ada, kebanyakan sakit badan. Kalau sakit badan itu nggak bisa sebentar, semuanya diurut."

"Ini bisa karena panik juga karena masih takut habis gempa, larinya ke pikiran, badan jadi cepet capek juga," jelasnya.

Di Desa Natanangge, 84 warga terlayani oleh tim medis dan 20 warga oleh ahli pijat Cimande. Secara keseluruhan, 282 warga terlayani tim Gerakan Anak Negeri di dua desa tersebut.


Stok Obat-obatan Menipis

Sementara itu, Koordinator Gerakan Anak Negeri, Iqbal Muhammad, bersyukur antusiasme warga terhadap pemeriksaan kesehatan begitu tinggi.

Baca Juga: Ribuan Gempa Susulan Guncang NTT, Mengapa Belum Berhenti? Ini Kata Sains

Bahkan, kepala desa juga sangat membantu dalam mengajak warga.

"Alhamdulillah antusiasme warga sangat tinggi, kepala desa juga luar biasa membantu mengajak warganya untuk datang," terangnya.

Yang menjadi kendala, stok obat-obatan kian menipis. Puskesmas Maukora ikut membantu memenuhi beberapa obat yang habis.

"Sampai hari ini kami masih bisa berjalan, kemarin dibantu juga obat-obatan dari Puskesmas Maukaro untuk memenuhi beberapa obat kami yang habis. Tapi stoknya juga menipis," ungkap dia.

Baca Juga: Melihat Langsung Dusun Niaiba yang Kosong dan Ditinggalkan Usai Gempa NTT

Kendati cukup melelahkan, tapi tim masih terus menjalankan misi kemanusiaan ini dengan sangat optimal.

"Kalau kondisi tim medis sampai hari ini terus bekerja maksimal, tulus dan ikhlas, tidak ada kendala sedikitpun."

"Secara fisik memang tenaga medis ini anak-anak muda yang tangguh. Cuma memang antusiasme warga sangat tinggi," sambungnya.

Melihat kondisi warga, Iqbal berharap dukungan terus mengalir untuk gerakan kemanusian.

Warga juga saat ini masih membutuhkan banguan logistik seperi makanan, selimut, hingga terpal.

"Karena banyak warga yang masih tidur di tenda mandiri di depan rumah. Kalau malam cuacanya dingin," pungkas Iqbal.***