POJOKSATU.id, JAKARTA— Kapolda Kaltara Irjen Daniel Aditya Jaya mengungkap alasan jenazah Brigpol Setyo Herlambang (33) diotopsi di Semarang padahal 10 tahun tugas di Kaltara (Kalimantan Utara).
Kapolda Kaltara juga memperjelas status Brigpol Setyo Herlambang yang disebutnya bukan ajudan pribadi, tetapi merupakan pengawal pribadi (walpri).
Menurut pengakuan Kapolda Kaltara, jenazah Brigpol Setyo Herlambang diotopsi di RS Bhayangkara Semarang karena permintaan keluarganya sendiri.
Brigadir Setyo Herlambang ditemukan meninggal di Rumah Dinas Kapolda Kaltara pada Jumat 22 September 2023.
Lalu jenazahnya dibawa ke Semarang dan diotopsi di RS Bhayangkara Awaloedin Djamin Kota Semarang.
Alasan otopsi di Semarang ini karena permintaan keluarga Setya Herlambang dan hal ini dikabulkan oleh Kapolda Kaltara.
“Tidak apa-apa tidak masalah. Kami kerja sama dengan Polda Jawa Tengah," kata Irjen Daniel Aditya Jaya, Sabtu (23/9/2023).
Menurutnya, tim gabungan dari Reskrim, Bidang Propam, serta Biddokkes, sedang menyelidiki penyebab kematian ajudannya tersebut.
Irjen Daniel hadir di Ruang Jenazah RS Bhayangkara Kota Semarang. Namun Daniel tidak menjelaskan luka yang dialami korban.
"Luka nanti bagian kesehatan yang menjelaskan. Nanti kalau sudah jelas hasil penyelidikannya akan kami sampaikan," tutur dia.
Bertugas 10 Tahun di Kaltara
Saudara ipar korban, Agus Dwi Jatmiko, mengungkap Brigadir Setya Herlambang sudah 10 tahun bertugas di Kaltara.
Korban betugas di Kalimantan selama sepuluh tahun terakhir. Kejadian ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga.
Korban meninggalkan seorang putra yang masih anak-anak. Sementara istrinya saat ini tengah mengandung anak keduanya.
Keluarga korban juga berharap penyelidikan kasus ini dilakukan secara transparan oleh Polri.
Sementara Polda Jawa Tengah mengungkap penyebab meninggalnya Brigadir Setyo Herlambang.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Satake Bayu mengatakan berdasarkan hasil autopsi, Brigadir Setyo Herlambang meninggal akibat tertembak peluru yang menembus jantung dan paru-parunya.
Menurut Kombes Satake, autopsi jenazah dilakukan jam 13.00 sampai dengan 15.00 WIB atau selama dua jam.
“Hasilnya penyebab kematian karena luka tembak pada dada sisi kiri menembus jantung dan paru akibatkan pendarahan hebat," katanya Sabtu (23/9) dikutip detikcom.***




