POJOKSATU.id, JAKARTA—Cuitan 1 USD viral di media sosial X merujuk nilai tukar 1 dollar AS terhadap rupiah. 1 Dollar AS memang sempat menyentuh angka Rp17.200 pada perdagangan Senin (7/4).

Namun pada perdagangan Selasa (8/4) sekitar pukul 16.55 WIB, seperti dilihat di laman Bank Indonesia (BI), 1 USD berkisar Rp 16.648,83.

Dari laman www.bi.go.id terlihat kurs beli di angka Rp16.483,17 dan kurs jual di angka Rp16.648,83.

Kurs jual adalah nilai tukar yang digunakan jika Anda akan menukarkan rupiah dengan mata uang asing.

Baca Juga: MUI Dukung Fatwa Jihad IUMS Melawan Israel, Rekomendasikan Kirim Pasukan untuk Lindungi Palestina

Sementara kurs beli adalah nilai tukar yang digunakan saat Anda hendak menukarkan mata uang asing dengan rupiah.

Sementara itu, pada perdagangan sehari sebelumnya, dolar AS terpantau menguat terhadap rupiah, dikutip dari data Bloomberg, Senin (7/4/2025), nilainya sempat menyentuh level Rp 17.200.

Cuitan mengenai 1 dollar AS atau 1 USD ini sedang viral di media sosial X pada Selasa, dimana sudah ada 63,4 ribu postingan.

“Kencangkan sabuk pengaman kita, selagi dan sejauh yang kita bisa. Awas, Akibat belanja negara lebih besar dari APBN, maka kurs 1 USD bisa menjadi Rp 20 ribu loh. Siap-siap negara bisa mengalami krisis. Simak ulasannya dalam video ini,” kata akun @taufik_q

Penurunan Rupiah

Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara.

Baca Juga: Prediksi Skor Arsenal vs Real Madrid di Liga Champions: Ujian Konsistensi Los Blancos

Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan pelemahan mata uang rupiah ini disebabkan oleh perang dagang.

"Untuk saat ini pelemahan mata uang rupiah itu disebabkan oleh perang dagang,” kata Ibrahim, Selasa (8/4/2025).

“Harus diingat, jadi kalau dulu sebelum ada perang dagang, fluktuasi dolar ini sangat berpengaruh terhadap pelemahan penguatan maupun pelemahan mata uang rupiah, tetapi pas terjadi perang dagang, apalagi tanggal 2 April itu dimulainya itu biaya impor tambahan," katanya lagi.

Baca Juga: Usai Jadi Trending Topic di X Gegara Dijemput Presiden Prabowo di Bengkulu, Aspri Agung Surahman Sontak Beri Klarifikasi

Ibrahim seperti dilansir dari detikcom mengatakan, pemerintah seharusnya telah memiliki solusi untuk meredam pelemahan mata uang rupiah.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa bulan terakhir di mana nilai tukar rupiah sempat menguat kemudian kembali melemah.

Selain itu, Ibrahim mendorong pemerintah agar menggelontorkan stimulus kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi-koperasi dalam negeri agar tetap menggeliat.

Kemudian, stimulus itu juga diberikan ke masyarakat untuk meningkatkan daya beli, seperti memberikan bantuan sosial (bansos) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Terakhir Pemerintahan Prabowo-Gibran harus mencari eksportir terbaru di negara-negara anggota BRICS maupun di luar anggota BRICS.

Dimana pemerintah harus bisa mengelola isu internal seperti penurunan daya beli, pemutusan hubungan kerja (PHK), defisit anggaran agar tingkat keyakinan investor meningkat sehingga bisa mendukung penguatan rupiah.***