Wajah Muram Dan Sedih Dedi Mulyadi Bukan Karena Digugat Cerai, Tapi Karena Masalah Prostitusi Mulai Menjamur

dedi mulyadi
Dedi Mulyadi saat ngobrol bareng para jablay di warung remang-remang yang ada di wilayah Cilodong Kecamatan Bungursari Purwakarta.

POJOKSATU.id, PURWAKARTA – Wajah muram dan sedih tampak membayangi Dedi Mulyadi, walaupun hanya sesaat raut itu terlihat jelas saat dirinya mendengar kawasan prostitusi di daerah Cilodong mulai menjamur kembali.


Dahulu, Kawasan Cilodong di Kecamatan Bungursari, terkenal sebagai tempat prostitusi di Kabupaten Purwakarta. Kawasan tersebut pernah dibasmi oleh Dedi Mulyadi saat ia menjabat sebagai Bupati Purwakarta.

Namun kini kawasan tersebut bergairah kembali. Saat Kang Dedi menjadi bupati, kawasan yang dikenal dengan tempat prostitusi dan warung remang-remang tersebut ditutup.

Setelah ditutup kawasan tersebut disulap menjadi sentra UMKM pedagang bunga hias.
Tak sampai di situ, kini di lokasi tersebut juga dibangun sebuah masjid megah yang terintegrasi dengan kawasan pertanian dan wisata bernama Tajug Gede Cilodong.


Kemarin Selasa (15/11), pulang dari undangan wayang golek Kang Dedi melintas ke jalur tersebut. Ternyata kawasan tersebut saat malam kembali gemerlap dengan sejumlah warung remang-reman dan wanita malam.

Saat Kang Dedi menyusuri berjalan kaki, sejumlah PSK yang sedang mangkal di warung tersebut berhamburan berlari ke gang-gang di sekitar lokasi.

“Ini marak lagi dan tak terkendali,” ucap Kang Dedi, Selasa (15/11) dini hari.

Di salah satu warung Kang Dedi bertemu dengan seorang PSK asal Subang. Ia mengaku sudah beberapa tahun ‘nongkrong’ di tempat tersebut untuk mencari pria hidung belang. Tarifnya Rp 300 ribu untuk satu kali ‘main’.

Namun Wanita tersebut mengaku sudah seminggu ini tidak ada pelanggan yang mampir. Ia pun lebih banyak diam sambil menenggak miras yang dibeli dari warung.
Wanita tersebut pun diberikan solusi oleh Kang Dedi.

Wanita itu diberi sejumlah uang untuk modal usaha atau kerja dengan syarat tak boleh lagi mangkal di tempat tersebut. Dan secara berkala Kang Dedi akan mengecek dan menertibkan tempat tersebut.

“Teteh sekarang pulang. Mulai sekarang jangan lagi di sini. Lebih baik pulang kampung buka usaha di sana atau kerja lain,” ucap Dedi sambil memberikan uang tersebut.

Sesaat kemudian mata Kang Dedi tertuju pada sejumlah botol bekas minuman keras yang disimpan pemilik warung di kolong meja. Ia pun meminta segera dibereskan dan tak boleh lagi berjualan miras.

Kang Dedi Kembali menyusuri jalan dan menemukan seorang wanita muda yang juga berprofesi sebagai PSK. Wanita tersebut mengaku asal Garut dan baru tiga bulan berada di Cilodong.

Awalnya wanita berbaju merah tersebut mengaku hanya sebagai penjual kopi. Namun Kang Dedi merasa janggal karena wanita tersebut dandan.

“Ah masa jam setengah dua begini dandan. Terus semua ini warung berjejer bilang warung kopi. Kalau semua jualan kopi siapa yang beli?,” ucap Dedi.

Akhirnya wanita tersebut pun mengakui bahwa ia seorang PSK. Ia berniat akan mengakhiri pekerjaan tersebut namun masih memiliki utang. Kang Dedi pun memberikan solusi dengan memberikan sejumlah uang agar wanita tersebut bisa mencari pekerjaan lain.

“Dulu rapi sekarang ramai lagi karena tidak ada yang mengendalikannya. Saya ingin membereskan ini karena dulu pernah dibereskan juga. Ini kan bangunan liar dan ada perdagangan wanita, bisa pidana,” ujar Kang Dedi.

Meski begitu Kang Dedi tidak akan bertindak arogan dan memilih jalan persuasif. Ia akan melakukan pendataan dan memberikan solusi bagi setiap problem yang dihadapi mereka.

“Ternyata setelah saya tidak lagi fokus menyelesaikan problem sosial di sini, sekarang marak lagi bahkan dengan jumlah yang sangat lebih banyak. Dan saya akan tetap bereskan walaupun itu bukan kewajiban saya,” pungkas Kang Dedi Mulyadi, (Ade Winanto / pojoksatu)