Rara Mandalika

Pawang hujan Rara Isti Wulandari saat beraksi di MotoGP Mandalika

Oleh: Dahlan Iskan

Sebenarnya saya ingin menulis tentang balap motor di Mandalika. Tapi, saya takut bersaing dengan Azrul Ananda.


Sebenarnya saya punya kelebihan darinya: punya nomor kontak Rara Wulandari –si pawang hujan yang menghebohkan itu. Tapi, saya kasihan dia: saya tidak ingin paksa dia untuk bercerita.

Saya memang menghubungi Rara. Tapi, sekadar untuk mengucapkan selamat: Anda top di atas top. ”Rahayuuuuu,” sapa saya kepada Rara.


Saat saya hubungi, Rara sedang menuju Pura Agung. Untuk semedi. Hari itu Kamis malam –malam Jumat Kliwon. Rara harus menenangkan diri. Rara merasa berita tentang dia terlalu banyak. Rara meminta agar saya tidak mewawancarai dulu.

Bagaimana dengan begitu banyaknya sorotan medsos padanya?

”Santai saja, Pak” kata Rara. ”Nanti kan reda sendiri,” tambahnya.

Kali pertama mengontak Rara empat hari lalu. Rara masih belum mau bicara. Dia mengatakan akan menghubungi saya: kalau sudah siap diwawancara. Saya tunggu. Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Rara belum mau bicara. ”Sudah terlalu banyak berita tentang Rara,” katanya.