Bocah 7 Tahun Dan Wisatawan Asing Disergap Komodo, Innalillahi

Kepala Dusun 01 Desa Komodo, Muhammad Sidik (memegang tongkat) menunjukkan komodo di kampung nelayan atau Kampung Wisata Komodo.

BELASAN anak-anak menyambut di dermaga sederhana. Melempar senyum. Malu-malu. Tak memakai alas kaki. Tak mengenakan baju. Hanya celana pendek melekat di badan. Ada yang sobek-sobek.


Anak-anak itu menemani saya menyusuri lorong kecil di Kampung Komodo, Desa Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/1)

Kondisi perkampungan kontras dengan keindahan panorama Pulau Komodo. Pulau yang ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia sejak 1991. Pulau yang masuk daftar 7 keajaiban dunia versi organisasi New 7 Wonders.

Deretan rumah panggung, ciri khas rumah nelayan, tampak kurang terurus.


Kaki terus melangkah. Melewati sela-sela rumah panggung. Menyaksikan aktivitas sore hari. Warga menyapa dengan ramah. Menyambut dengan senyuman, khas pedesaan.

BACA: Cerita Ibu Melahirkan Komodo, Nenek Moyang Warga Kampung Nelayan

Setelah berjalan kaki sekitar 200 meter dari dermaga, akhirnya kami sampai di belakang perkampungan. Di dekat lapangan. Di dekat sekolah dasar (SD) yang pagarnya cukup tinggi. Yang pintunya terbuat dari dinding besi.

Pagar sekolah dibuat tinggi agar tak dipanjat komodo. Hewan buas, kanibal. Yang bisa menyerang kapan saja.

Seekor komodo tampak menikmati sisa-sisa makanan di dekat tumpukan sampah. Di area pekuburan. Komodo itu cukup besar. Panjangnya diperkirakan 2,5 meter dengan bobot sekitar 75 kilogram.

Hampir setiap hari komodo turun ke perkampungan warga. Mencari makan. Warga tak mengusir. Sudah terbiasa. Sudah menganggap orah alias saudara.

Warga yang mengusir bakal mendapat petaka. Komodo akan datang balas dendam. Kapan saja.

“Pernah ada warga yang mengusir komodo. Tidak lama, komodo datang menerkam anaknya. Tangan kirinya putus,” ucap Kepala Dusun 01 Desa Komodo, Muhammad Sidik pada Sabtu, 15 Januari 2022.

Seingat Sidik, baru satu kali kejadian fatal yang menyebabkan warga Pulau Komodo meninggal akibat diterkam komodo. Korbannya anak kecil. Usia 7 tahun.

“Kalau tidak salah kejadiannya tahun 2007. Anak ini baru naik (ke kebun) memetik buah asam. Tiba-tiba sakit perut. Dia lari ke semak-semak, tiba-tiba ada komodo. Dia tidak sadar bahwa komodo ada di semak,” ucap Sidik.

Pada 2017, seorang wisatawan asing asal Singapura juga disergap komodo. Nama korban Loh Lee Aik (68). Fotografer ini digigit komodo di Desa Komodo, Kecamatan Komodo pada Rabu (3/5/2017).

“Dia (wisatawan asing) pergi ke perkampungan warga mencari komodo. Dia digigit di perkampungan, bukan di sini (Taman Nasional Komodo),” ucap ucap Naturalist Guide Taman Nasional Komodo, Akbar Setiawan.

Peristiwa itu terjadi saat Loh Lee Aik asyik mengambil foto komodo yang sedang memangsa bangkai kambing. Loh Lee Aik hanya seorang diri. Tak ditemani ranger maupun warga setempat.

Tiba-tiba seekor komodo kecil datang. Menggigit betis kiri Loh Lee Aik. Ia mengalami luka robek. Langsung dibawa ke puskemas pembantu (pustu) Desa Komodo. Lukanya dijahit. Diberikan anti biotik. Loh Lee Aik selamat dari maut.

Dari catatan Taman Nasional Komodo, ada 16 orang digigit komodo sejak tahun 1987. Dari jumlah itu, empat di antaranya meninggal dunia. (M Ridwan/bersambung)