Ongko Laokao

Dahlan Iskan melayat Ongko Laokao

Dari dagang kertas itu Ongko menyalip teman di seberang jalan: naik ke industri kertas. Ongko membangun pabrik kertas sendiri. Papanya kurang setuju, tapi Ongko ingin lebih maju dari sang papa.


Pabrik itu ia bangun di Kertosono.

Kok jauh dari Surabaya?


“Harus dekat dengan pabrik gula. Bahan bakunya ampas tebu,” ujar Ong Mardi Hartono, anak laki-laki satu-satunya dari lima anak Ongko. Otomatis Mardi yang jadi pimpinan puncak di Jaya Kertas sekarang ini.

Waktu itu pabrik kertas tidak diizinkan berdekatan. Agar tidak rebutan ampas tebu dari pabrik gula yang sama. Pabrik kertas Pakerin di Mojokerto. Surya Kertas di dekat pabrik gula Sidoarjo. Pabrik Kertas Leces di wilayah timur Jatim, dekat Probolinggo.

Pabrik Jaya Kertas terus berkembang. Apalagi di zaman beli-beli secara online sekarang ini. Diperlukan kian banyak kertas pembungkus.

Lalu berkembang lagi ke pabrik kertas tisu. Zaman ini seperti tidak bisa hidup tanpa tisu. Paperless memang sudah lama diramalkan bakal terjadi. Tapi dua jenis kertas itu kian diperlukan.

Wajah Mardi sangat mirip papanya. Demikian juga postur tubuhnya. Empat adik wanita Mardi pun ikut menjalankan pabrik.

Waktu saya mesong, semua anak Ongko lengkap ada di dekat jenazah. Demikian pula satu-satunya istri Ongko: Kinarti.

Ongko setia pada Kinarti. Tidak ada istri kedua, ketiga, atau keempat seperti papanya. Kinarti pun hidup bahagia bersama Ongko. Sebenarnya, waktu itu, ada sinyo lain yang mengincar Kinarti. Juga asal Malang. Sampai pun sang Sinyo menyewa salah satu toko papanya Kinarti. Agar bisa berdekatan dengan gadis Kinarti.

Bahkan sang Sinyo sampai menggunakan nama Kinarto ketika harus punya nama Indonesia. Bayangannya: Kinarto bisa dapat istri Kinarti.

Waktu itu Kinarti masih di SMA Santa Maria Malang. Dia tidak tahu kalau lagi diincar sinyo Kinarto.

Suatu hari papanyi memanggil Kinarti. Untuk dijodohkan dengan Ongko Prawiro dari Surabaya. Gadis zaman itu tidak punya pilihan. Perjodohan masih menggunakan “sistem jeweran”. Sang gadis dijewer telinganyi untuk diberitahu siapa suaminyi.

Kinarto sendiri belakangan juga menjadi orang sukses: sangat kaya. Propertinya merajalela di mana-mana. Kinarto biasa memanggil saya lao da –saudara tua.

Ongko, Kinarti, dan anak-anak mereka masih rajin ke kelenteng sampai sekarang. Terutama ketika bulan purnama dan bulan kosong. Juga di hari-hari ulang tahun Dewi Kwan Im –lahirnyi, hari jadi dewinyi, dan muksanyi.

Dewi Kwan Im sangat penting bagi mereka. Demikian juga laokao. (Dahlan Iskan)