Kampret Pulau Kalong

Kapal wisatawan berlabuh di perairan Pulau Kalong.

Kapal kami bertabrakan dengan kapal lain. Pagar anjungan kapal kami patah. Ditabrak buritan kapal di sebelahnya. Untung tak ada korban.


Awak kapal panik. Berlarian. Menjaga keamanan kapal dan penumpang. Kapten kapal gerak cepat. Memutar kapal. Menjauh dari kapal lain.

Saya merekam peristiwa menegangkan itu. Videonya 11 detik. Belum saya bagikan di medsos. Mungkin lain waktu saja. Atau tidak perlu dibagikan. Cukup jadi pengingat bahwa maut bisa datang kapan saja.


Peristiwa itu nyaris memakan korban. Salah satu ABK di kapal sebelah mencoba menahan kapal. Agar tidak tabrakan. Untung teman ABK itu datang. Menarik cepat agar tidak celaka.

Peristiwa itu terjadi pukul 16.53. Hampir bersamaan dengan gempa magnitudo 6,6 di Banten. Yang menyebabkan 1.100 rumah rusak. Yang turut mengguncang Jakarta dan sekitarnya.

Saat itu, kalong masih bertahan di hutan mangrove. Bersembunyi di balik pohon bakau. Hewan malam itu baru keluar saat gelap. Saat badai sudah berlalu. Terlihat samar seperti bayangan. Terbang di atas langit Pulau Kalong. Keluar mencari mangsa.

BACA: Pesona Labuan Bajo, Surga Kecil di Ujung Barat Flores

Keberadaan kalong di pulau ini menjadi daya tarik wisatawan. Terutama pecinta hewan malam.

Jika cuaca bagus, wisatawan dapat menyaksikan ribuan kalong beterbangan. Menyambut langit senja. Menikmati pesona matahari terbenam atau sunset.

Para wisatawan bisa mengabadikan momen indah itu dengan merekam atau mengambil foto menggunakan kamera.

Senior saya dari Jasinga Bogor menyebut kelelawar di pulau itu adalah kampret. Kalong dan Kampret memang sejenis. Tapi sebenarnya berbeda.