Kampret Pulau Kalong

Kapal wisatawan berlabuh di perairan Pulau Kalong.

PULAU Kalong berbeda dari kebanyakan pulau di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Pulau Kalong tetap hijau, baik musim hujan maupun musim kemarau. Tidak seperti Pulau Padar. Atau pulau lain di Kecamatan Komodo. Yang kering saat kemarau. Seperti gunung tandus. Yang tampak berlumut saat musim hujan. Seperti sabana. Hijau. Mirip bukit Teletubbies.

Pulau Kalong masuk dalam wilayah Taman Nasional Komodo. Berada di antara Pulau Papagarang dan Pulau Rinca.

Seperti namanya, pulau ini merupakan rumah para kalong atau kelelawar raksasa. Berisi hutan mangrove. Tak ada pasir dan pantai. Seperti pulau lain.


Ada ribuan, bahkan jutaan kalong di pulau itu pada siang hari. Menggantung di pohon bakau. Yang hijau nan rimbun.

Kalong biasanya keluar pada sore hari, pukul 18.00 WITA. Namun pada musim hujan, kalong keluar lebih cepat. Pukul 17.30 sudah meninggalkan sarang.

Kalong terbang berkelompok. Awalnya puluhan. Lalu ribuan. Terbang mengitari langit senja. Pergi mencari makan di tempat lain. Pulang lagi sebelum pagi.

BACA: Sensasi Bermalam di ‘Hotel Bergoyang’ Pulau Komodo

Kami tiba di Pulau Kalong pada Jumat, 14 Januari 2022 pukul 16.40 WITA. Hari mulai senja. Awan tebal menutupi langit.

Di sana sudah ada sembilan kapal wisata pinisi sedang berlabuh. Berdekatan. Mengitari pulau. Menunggu sunset. Menanti kelelawar keluar.

Tiba-tiba hujan turun. Sangat deras. Gelombang laut naik. Menghantam kapal. Angin bertiup kencang. Kapal kami terseret. Tak terkendali. Braaaak!