Dian Ciputra

Mendiang Ciputra dan istri, Dian Sumeler. Foto: Repro

Awal kisah cinta mereka hampir mustahil terjadi lagi di zaman TikTok ini: gara-gara tabrakan sepeda.


Ketika masih berumur 17 tahun, Dian sudah jadi bintang segala bintang di Manado —di bidang kecantikan. Dian menjadi pembicaraan di basis orang cantik Manado. Sampai-sampai di umur sebelia itu sudah diincar anak salah satu orang terkaya di Manado.

Dian masih harus sekolah. Dia masih berstatus pelajar SMA di sana.


Dian tidak tergiur itu.

Suatu hari Dian naik sepeda memboncengkan temannya, sesama siswi SMA Susteran. Dari arah berlawanan Ciputra diboncengkan sepeda oleh temannya. Sesama cowok siswa SMA Don Bosco. Si teman itulah yang sebenarnya yang menaksir Dian.

Sepeda itu tabrakan. Atau ditabrakkan. Entahlah. Yang jelas, dua cowok itu punya alasan untuk berkenalan dengan dua cewek dari SMA yang berbeda itu.

Anehnya, justru Dian lebih tertarik pada si pemilik wajah yang lebih jelek: Ciputra. Padahal, waktu itu Ciputra anak janda miskin. Ayahnya sudah lama ditangkap Jepang: dituduh jadi mata-mata Belanda. Sejak ditangkap itu, sang ayah tidak pernah kembali —sangat mungkin sudah mati dibunuh Jepang.

Dian asli Manado —setidaknya lahir di Manado, besar di Manado. Dia sendiri merasa sebagai orang Tionghoa Manado.

Sedangkan Ciputra lahir di kota kecil Parigi —di leher ceking Pulau Sulawesi: jauh dari Palu, jauh pula dari Gorontalo.

Sebelum SD, Ciputra sudah diajak ibunya mengungsi ke utara. Ke Desa Bumbulan. Itulah desa di dekat Pantai Tomini, yang masuk Kecamatan Paguat. Anda tentu masih ingat Paguat: pusat bisnis investasi online yang merugikan ribuan investor yang dijalankan seorang polisi berpangkat letnan dua kapan itu (Baca Disway edisi: Investasi Paguat).