Dian Ciputra

Mendiang Ciputra dan istri, Dian Sumeler. Foto: Repro

Oleh: Dahlan Iskan

Saya terlambat tahu: Ny Ciputra ternyata sudah meninggal dunia. Berarti, hanya tiga tahun setelah sang suami mendahuluinya.


Ada satu pelajaran penting bagi gadis-gadis masa kini. Terutama bagi gadis yang merasa dirinya sangat cantik. Atau setidaknya cantik sekali.

Secantik apa pun Anda masih akan kalah cantik dengan Dian Sumeler —yang awalnya memilih menjadi istri mahasiswa miskin ITB tapi berkembang menjadi konglomerat besar bernama Ciputra.

Saya selalu menjadikan Dian contoh klasik yang Anda sudah hafal ini: di balik apa, ada apa.


Suami istri Ciputra-Dian itu sempurna —kalau saja Tuhan tidak cemburu pada predikat itu. Itulah pasangan kekal —seperti ikut hukum kekekalan energi.

Yang suami keras-ngotot. Yang istri lembut-sabar-mengalah. Itu juga lambang bahwa cinta itu —seharusnya— tidak mempertimbangkan rupa dan harta: ”Wajah Ciputra itu sangat jauh dari ganteng”. Tapi, sebagai wanita yang amat cantik, Dian tidak pernah mengejek Ciputra itu jelek —pun kalau itu hanya guyon.

Ciputra contoh orang yang punya keinginan kuat. Kerja keras. Hemat. Ngotot. Sukses. Sekaligus contoh keluarga yang taat beragama, berjuang untuk agama itu, sekaligus contoh kerukunan dan keserasian rumah tangga.

Sama sekali tidak ada omongan tentang cewek atau cowok lain di hubungan suami istri tersebut.

Pun dalam mendidik anak-anak. Sampai pun semua rumah keempat anaknya itu harus di satu blok, bersebelahan atau berseberangan di satu jalan —di kompleks perumahan elite di Pondok Indah.

Dian adalah penyeimbang roket bernama Ciputra.