Babi Gadis

David Bennet (kanan) berhasil operasi Jantung dengan menggunakan katup jantung Babi. Foto via Disway

Berarti editing jantung babi berumur 1 tahun itu berhasil. Ada enam unsur gen manusia yang dimasukkan ke dalam jantung babi itu. Lalu ada empat unsur gen babi yang dibuang. Jantung babi yang sudah di-edit itu ternyata begitu cocok dipakai manusia.


Saya mulai berpikir: karena sebagian unsur babinya sudah dibuang, apakah itu masih bisa disebut jantung babi –kabuuuur.

Saya belum mendapat kepastian: apakah editing itu sekalian untuk mengatasi aspek rejection. Literatur kedokteran menyebut: semua barang dari luar tubuh dianggap benda asing yang harus ditolak oleh tubuh. Termasuk slilit gigi, tlusup, jantung babi David, dan hati orang Tiongkok yang sedang saya pakai sekarang ini.

Maka orang yang menjalani transplantasi harus menurunkan imunitas –dengan cara minum obat immunosuppression setiap hari.


Jangan-jangan editing jantung babi di Amerika tersebut sudah sekalian mengatasi rejection itu –tanpa harus minum obat lagi seperti saya.

Mestinya begitu. Setidaknya begitulah harapan saya.

Editing itu dilakukan di peternakan babi, oleh perusahaan yang akan memproduksi jantung babi-edit-an. Anda bisa memesan jantung itu kelak. Setetelah resmi diizinkan.

Kini belum diizinkan. Ganti jantung babi itu masih menggunakan izin ”welas asih” dari BPOM-nya Amerika, FDA. Bukan ”izin darurat” seperti penggunaan vaksin.

Jangan-jangan BPOM juga bisa punya jenis ”izin welas asih’ seperti itu untuk VakNus. Atau tidak –karena VakNus untuk masyarakat luas.

David masih harus menunggu sekitar satu bulan lagi untuk dianggap benar-benar sukses. Ancaman yang masih mungkin terjadi bukan lagi rejection. Tapi infeksi. Konsentrasi dokter untuk David sudah pindah ke ”jangan sampai kena infeksi”.

Saya pun ingat. Dokter yang melakukan transplantasi hati saya pernah mengatakan: operasinya sendiri boleh dibilang 99,99 persen akan sukses. Kuncinya setelah operasi itu: infeksi.

Tapi transplantasi jantung babi ke manusia tentu beda. Belum pernah terjadi –kecuali yang di Assam, India itu.

David tahu risiko menjadi yang pertama itu. Ia, ketika memutuskan ok, mengatakan begini: “Meski ini seperti menembak dalam gelap, siapa tahu kena”. (Disway)