Semeru 5 Cm

Dahlan Iskan bersama istri di jembatan Gladak Perak yang kini hilang akibat banjir lahar Gunung Semeru.

Oleh: Dahlan Iskan

LANGIT mendung. Sabtu sore lalu. Hujan pun turun rintik-rintik. Ny Imam terpana: kok jas hujan para pengendara motor yang lewat di depan rumahnyi seperti berlumpur.

Dia pun menengadahkan tangan di rerintikan itu: berpasir. Dia juga melihat tong air di pekarangan rumahnyi: berlumpur.

Ny Imam langsung mencari suaminyi: lagi leyeh-leyeh setengah tidur di kursi ruang depan. Dia bangunan sang suami: “Semeru mau meletus,” katanyi.


“Kenapa Anda risau. Kan rumah Anda agak jauh dari Semeru,” tanya saya lewat ponsel suaminyi.

“Ibu saya di Pronojiwo. Demikian juga tiga kakak saya,” ujar Ny Imam. Rumah Ny Imam 14 Km dari rumah ibunyi.

Pronojiwo adalah kecamatan yang paling terdampak letusan Sabtu sore lalu. Khususnya di desa Oro-oro Ombo dan Gladak Perak. Setidaknya 13 orang tidak terlihat di pengungsian –keesokan harinya ditemukan meninggal dunia. Mereka kena terjang lahar panas yang meleleh dari puncak Semeru. Data terakhir tadi malam, jumlah korban meninggal 14 orang.

Banyak rumah hancur. Tidak sedikit hewan piaraan ikut terbenam lumpur panas.

Anda pun sudah melihat sendiri: begitu banyak foto beredar di medsos. Termasuk mayat-mayat yang setengah tenggelam di lumpur yang sudah padat.

“Ibu dan kakak-kakak Anda baik-baik saja kan?” tanya saya.

“Belum tahu,” ujar Ny Imam, pukul 17.30 kemarin. “Saya sudah sering WA kakak-kakak saya. Sejak kemarin. Sampai sekarang. Belum dijawab,” ujarnyi. “Tetap saja hanya centang satu,” tambahnyi.

Ny Imam sebenarnya ingin sekali ke desa asalnyi itu. Untuk melihat ibunyi dan kakak-kakaknyi. Sang ibu sendirian di rumah itu. Yakni di rumah tempatnyi dilahirkan dulu. Sedang kakak-kakaknyi sudah berkeluarga di rumah terpisah.

“Saya tidak bisa ke sana. Jembatannya hanyut. Hilang,” katanyi.