Durian Pentil

Dahlan Iskan berbincang dengan Mas Yanto di kebun durian

Saya pun bertanya pada mereka: melihat perkembangan durian 8 tahun terakhir, kapan kita berhasil menjadi negara pengekspor durian?

“Proses belajar durian ini lama. Satu siklus belajar 5 tahun. Mungkin baru tercapai 20 tahun lagi,” ujar R. Ahut F Hendrasul. Ia akuntan. Ia juga sudah mulai terjun ke kebun durian.

Pertanyaan lain: kapan durian Indonesia punya standar rasa, katakanlah lima rasa yang terbaik. Maksud saya: kapan aneka-ria rasa durian Indonesia itu tidak lagi mengganggu rasa yang utama.

“Masih lama. Menunggu mereka yang menanam Musang King, Bawor, Tembaga, dan yang unggul lainnya menjadi kaya. Setelah mereka terbukti kaya yang lain akan ikut,” ujar Ahud.


Berita baiknya: sudah ada teknik topwork. Durian aneka ria rasa itu tidak harus dibabat, untuk ditanam yang baru. Terlalu lama. Cukup dilakukan topwork.

Pertanyaan terakhir: ada berapa orang seperti Mas Yanto ini di seluruh Indonesia?
“Sedikit sekali”.
“1.000?”
“Tidak ada”.
“500?”
“Tidak sampai.”
“300?”
“Mungkin”.
“Di seluruh Malang ada berapa Mas Yanto?”
“Satu”.
“Di seluruh Jatim?”
“Satu”.

Saya pun ingat wiridan Butet: Air Susu Umi.

(disway)