Durian Pentil

Dahlan Iskan berbincang dengan Mas Yanto di kebun durian

Saat Mas Yanto mendekati pagar ia melihat satu durian tergeletak di tanah: baru saja jatuh. Saya dipanggil untuk mendekat. “Pak Dahlan beruntung, ada durian jatuh,” katanya. “Ini Musang King,” tambahnya.


Saya pun berhoreee. Lalu mendongak. Masih banyak Musang King bergelantungan di atas sana. Mas Yanto minta agar saya menjauh, khawatir kejatuhan yang lain.

“Kok pohon yang satu ini tinggi sekali. Tidak seperti lainnya?” tanya saya.

“Dulu ada satu pohon durian yang sudah besar di sini. Tidak pernah mau berbuah. Lalu saya lakukan topwork,” katanya.


Topwork yang dimaksud: pohon durian kampung dipotong, untuk disambung dengan durian Musang King. Dengan demikian, bagian bawahnya: pohon durian jenis lama. Bagian atasnya: pohon durian jenis Musang King.

Sambil membawa durian runtuh itu kami ke teras rumah Mas Yanto. Saya berpapasan dengan banyak tamu. Kebun ini memang terkenal sebagai tempat belajar. Letaknya hanya satu jam bermobil dari kota Malang. Ke arah Gunung Kawi.

Menyapa tamu sambil bawa durian jatuhan.
Mereka itu juga lagi melihat-lihat kebun Mas Yanto.
“Dari mana?” tanya saya dalam bahasa Mandarin.
“Dari Jakarta,” jawabnya.
“Mau beli durian atau mau dagang durian?”
“Kalau bisa dua-duanya,” jawabnya.

Kami pun membuka durian runtuh di teras itu. Kami duduk menghadap ke Gunung Kawi. “Ini Musang King beneran,” komentar saya setelah memperebutkannya dengan istri saya.

Tamu dari Jakarta itu membuka durian bawor. Ukurannya sangat besar. Saya permisi untuk mencicipinya, barang satu ruas: manis pahitnya ideal sekali. Sama dengan durian bawor yang dikirim Mas Yanto dari Tegal dua minggu lalu.

Saya bangga: durian bawor sudah punya standar rasa. Itu yang harus dijaga. Jangan sampai nama jualnya bawor tapi rasanya slebor.

Saya berkenalan dengan tamu dari Jakarta itu: Gunawan Wijaya. Bisnis yang digelutinya istimewa: kuburan. Ia punya tanah kuburan seluas 70 hektare. Di Karawang. Sejak tahun 2003. Jauh sebelum Lippo memasuki bisnis tanah makam di dekatnya: San Diego, yang luasnya 400 hektare.

“Saya belajar bisnis pemakaman dari Malaysia,” ujar Gunawan yang asli Pekalongan. Ia pernah survei di negara tetangga itu. Di sana sudah ada perusahaan pemakaman yang go public di pasar modal.

Gunawan lantas mengajak investor Malaysia. Yang diajak mau. Maka berdirilah perusahaan pemakaman PMA pertama di Indonesia.
Setahun kemudian Gunawan membuat perusahaan sendiri. Lokasinya di sebelah yang Malaysia itu: Graha Sentosa.

Gunawan ke Malang bersama istri dan ibunya. Juga seorang sepupunya yang berasal dari Tulungagung. Sang istrilah yang asyik bicara berdua dengan Mas Yanto. Kelihatannya deal: dari Malang dikirim ke Jakarta.

Mas Yanto hanya tamat STM. Lalu bekerja di perbengkelan karoseri mobil. Ayahnya, bertani. Menanam tebu. Turun temurun.

Ladang tebu itulah yang diubah Mas Yanto menjadi kebun durian. Kebiasaannya mengerjakan teknik di bengkel membuat kebunnya diurus secara teknik pula. Antar pohon itu dihubungkan dengan pipa air.

Mas Yanto tahu: pohon durian itu rakus air. Lewat pipa itulah, di musim kemarau, ia siram pohonnya tiga kali seminggu. Sekali siram banyak sekali. “Satu pohon sampai 750 liter,” katanya. Itu lebih baik daripada disiram tiap hari @250 liter. Itu menyangkut bentuk pori-pori tanah.

Jangan sampai buntu karena salah penyiraman. Teras rumah Mas Yanto kian ramai. Lima pemuda datang menimbrung. Mereka adalah aktivis muda bidang pertanian nontradisional. Ada yang dokter, akuntan, pemulia tanah, dan ahli pembibitan. Mereka tergabung dalam kelompok ”Tandurian”. Ketuanya: dr Pandu Ari, sudah berhenti praktik sebagai dokter.

Anggotanya sudah 3.000 orang. Mereka adalah anak muda yang bertekad kembali ke pertanian tapi dengan cara anak muda masa kini. Bersama mereka itu saya seperti menjadi punya new hope. Mereka muda. Intelektual. Dari desa. Kembali ke desa. Dengan cara yang berbeda.