Durian Pentil

Dahlan Iskan berbincang dengan Mas Yanto di kebun durian

Oleh: Dahlan Iskan


SAYA di Gunung Kawi kemarin. Di dekat-dekatnya. Ada Mas Yanto di situ. Yang lagi melakukan ”kekejaman” rutinnya: ia petik buah-buah durian yang masih kecil. Ia buang ke tanah.

Saya berteriak-teriak di depannya. Saya tidak tahan menyaksikan ”kekejaman” Mas Yanto itu. Eman sekali. Begitu banyak pentil durian yang ia renggut dari dahan. Untuk dia buang begitu saja.

Saya tidak sampai hati melihatnya. Tapi pohon durian itu miliknya sendiri, saya tamu di kebun itu. Hati saya teriris setiap kali tangan Mas Yanto meraih pentil durian, merenggutnya dan membuangnya.


Pentil “Bahasa Jawa” adalah buah yang masih kecil. Masih sangat muda. Masih bayi. Kebun durian Mas Yanto sedang memasuki musim pentil. Satu pohon bisa memiliki 100 pentil lebih. Kalau semuanya bisa membesar menjadi durian alangkah lebatnya buah di pohon itu.

Itu tidak mungkin. Sebagian besar, pentil itu, akan jatuh sendiri ke tanah. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Atau depannya lagi.

Mas Yanto tidak mau itu. Sama-sama akhirnya rontok lebih baik digugurkan saat masih sangat kecil. Agar sari makanan yang dari pohon bisa fokus untuk membesarkan pentil-pentil yang bentuknya sempurna.

Mas Yanto bisa membedakan mana pentil yang akan menjadi durian dan mana yang akan gugur muda. Toh kalau semua menjadi buah dahannya tidak akan kuat. Satu dada wanita bisa digantungi dua gunung besar, tapi satu dahan durian akan patah digantungi begitu banyak buah.

Mas Yanto membatasi satu dahan hanya boleh digantungi 4 durian. Agar kualitas duriannya sempurna. Maka Mas Yanto tega saja hanya menyisakan 4 pentil di antara puluhan yang ada di satu dahan.

Dengan policy satu dahan cukup empat buah saja, toh satu pohon sudah bisa berisi 30 sampai 40 buah. Itu sudah sangat baik. Asal semuanya berkualitas Marilyn Monroe.

Mas Yanto punya 60 pohon durian bawor dan 30 pohon Musang King. Itu yang di 3.000 meter tanah miliknya sendiri. Masih lebih banyak pohon durian lain di tanah yang ia sewa. Ada juga pohon durian hasil kerja sama dengan teman-temannya.

Berada di kebun durian Mas Yanto ini sangat menyenangkan. Pohon-pohonnya baru berumur 7 tahun. Ibarat gadis masih Gisel semua. Masih belum menjulang tinggi. Dahan-dahannya begitu banyak. Bentangan ke sampingnya begitu lebar. Jarak antar pohonnya memang hanya 8 meter.

Daun dari pohon satu sampai bersentuhan dengan daun dari pohon sebelahnya. Kebun ini terasa padat, subur, rapi dan menyenangkan. Dahan terbawahnya kurang satu meter dari tanah. Banyak buah durian yang bisa dipetik tanpa memanjatnya.