Haji Masdar

Ilustrasi : Jutaan jamaah mengelilingi Ka'bah.

Tapi, ia mengaku hari itu gagal melaksanakan haji. Bukan soal keyakinan, melainkan karena persoalan teknis. ”Waktu saya mau wukuf di Arafah, pintu Arafah dikunci,” ujarnya.


Ia pun tidak bisa masuk Arafah. Tidak ada petugas yang menjaga pintu terkunci itu. Bahkan, di seluruh padang Arafah tidak ada satu pun manusia.

Lokasi wukuf tersebut memang dipagari. Gerbangnya hanya dibuka di musim haji. Setahun hanya dibuka satu hari itu saja.

Saya pernah tiba di padang Arafah pukul 23.00-an. Tahun 1990-an. Waktu itu kami berlima jalan kaki dari Makkah. Kami berangkat dari Makkah pukul 17.00. Tiba di Arafah pukul 23.00. Kami mengira bisa masuk Arafah lebih awal. Untuk mencari tempat yang terbaik. Pada jam segitu ternyata gerbang besi berjeruji itu masih terkunci. Baru akan dibuka beberapa jam kemudian. Malam itu kami yang kelelahan tiduran di atas pasir di luar gerbang. Lampunya terang benderang. Seluas mata memandang. Pedagang makanan dan minuman juga banyak sekali.


Walhasil, kalaupun banyak kalangan yang bisa menerima ide Kiai Masdar, tetap saja bergantung penguasa di Arab Saudi: mau atau tidak membuka pagar padang Arafah.

Maka, kalaupun ide kiai Masdar itu perlu didiskusikan, salah seorang peserta diskusi harus Muhammad bin Salman -putra mahkota Kerajaan Arab Saudi yang mulai mengizinkan K-pop konser di sana.

(disway)