Haji Masdar

Ilustrasi : Jutaan jamaah mengelilingi Ka'bah.

Bahwa Nabi Muhammad melaksanakan haji tanggal 9 sampai 12 di bulan Besar (bulan Haji), kata Masdar, itu tidak bisa menghapus ayat Qur’an yang mengatakan waktu haji itu beberapa bulan. ”Nabi Muhammad kan hanya sekali berhaji,” ujar Masdar. ”Kecuali, Nabi Muhammad itu berkali-kali berhaji dan selalu di tanggal itu,” tambahnya.


Menurut Masdar, ”beberapa bulan” yang dimaksud Al-Qur’an itu adalah tiga bulan: Syawal, Selo, Besar. Kapan saja boleh selama masih di dalam tiga bulan itu. ”Yang tidak boleh berubah adalah tempatnya, persyaratannya, dan urutan ibadahnya,” ujar Masdar.

Kalau berhaji itu bisa dilakukan di tiga bulan tersebut, kita punya waktu 90 hari. Kalau setiap musim haji berlangsung 7 hari, kelak setahun bisa 12 kali musim haji.

Belum lagi kalau bisa pakai sistem in-out: tiap dua hari padang Arafah bisa dibuka untuk ritual wukuf. Wukuf sendiri hanya satu hari. Selama satu hari itu untuk keperluan kebersihan.


Itu berarti dalam tiga bulan bisa terlaksana 40 kali musim haji.

Sebagai ahli agama, Masdar sudah lama tahu ketentuan baku dalam Qur’an tersebut. Tapi, ia baru tergerak melontarkan ide tersebut pada 1994. Yakni, 4 tahun setelah peristiwa terowongan Mina. Yang menelan korban sekitar 1.500 orang. Mereka mati terinjak-injak. Saking padatnya musim haji.

Di zaman awal Islam, jumlah yang naik haji hanya puluhan ribu orang. Sekarang sudah sekitar 2,5 juta orang. Masjid Makkah memang terus diperluas. Tetap saja kurang besar.

Yang mengelilingi Ka’bah (tawaf) pun makin jauh dari Ka’bah. Bahkan, banyak yang terpaksa tawaf di ”atas” Ka’bah. Yakni, di lantai 5 Masjidilharam.

Tentu tidak mudah menerima ide Kiai Masdar itu. Bahkan pun untuk kalangan NU sendiri.

”Misalkan bisa diadakan voting di antara anggota Syuriah PB NU, apakah ide sampean itu bisa menang?” tanya saya.

”Tidak mungkin menang,” jawab Kiai Masdar.

Berarti ide itu memang masih jauh untuk bisa diterima.

Secara individu, sebenarnya sudah ada yang setuju dengan ide tersebut. Saya mengalaminya sendiri. Yakni, waktu saya umrah sekitar 20 tahun lalu.

Hari itu saya bertemu orang Indonesia di Makkah. Tidak lagi muda, tapi juga belum tua. Ia intelektual Islam. Ia seorang dokter. Ia bercerita bahwa kedatangannya ke Makkah kali itu untuk berhaji.

”Hah? Berhaji? Ini kan bukan musim haji?” tanya saya.

”Saya meyakini berhaji boleh dilakukan di luar musim haji,” ujarnya. Ia pun menguraikan alasannya. Persis dengan yang disampaikan Kiai Masdar.