Madu Jenazah

Bupati Bojonegoro Anna Mu'awanah dan wakilnya Budi Irawanto

Oleh: Dahlan Iskan


SAYA tidak kecewa. Telepon dan WA saya memang tidak direspons oleh Bupati Bojonegoro Anna Mu’awanah. Saya justru bersyukur.
Itu berarti bupati lagi menahan diri.

Demikian juga ketika telepon saya tidak lagi direspons Wakil Bupati Budi Irawanto Sabtu lalu. Saya juga bersyukur. Tampaknya sang wakil juga lagi menahan diri.

Saya sama sekali tidak kecewa. Toh saya bukan lagi wartawan dalam pengertian ini: akan dimarah-marahi redaktur kalau tidak berhasil menembus sumber berita. Saya juga bukan lagi wartawan yang mencari kebanggaan dengan menjadi satu-satunya yang


berhasil mewawancarai sumber berita yang sulit dikejar.

Dan lagi, ehm, saya tidak disediakan anggaran untuk mengejar narasumber itu.

Bukan. Bukan itu.

Saya sendiri senang kalau bupati dan wakilnya bisa menahan diri. Yang salah satu bentuknya: tidak melayani wawancara media. Apalagi kalau sang bupati dan wakilnya menyadari kelemahan mereka di depan media: mudah terpancing, tidak mampu memilih diksi yang tepat, dan terlihat egois. Lantas yang keluar di media hanya akan menambah panasnya keadaan.

Yang penting saya sudah menghubungi mereka berdua. Bahwa tidak direspons itu sudah menggugurkan “kewajiban” saya untuk mendapatkan keterangan dari dua belah pihak.

Apakah berarti ketegangan di Bojonegoro segera reda? Dan akan menuju damai selamanya?

Kelihatannya tidak. Atau belum. Polisi terus memanggil saksi. Dua wartawan sudah diperiksa. “Saya juga sudah dipanggil, ujar Sasmito, wartawan SuaraBojonegoro.com. la menjadi wartawan ketiga yang dipanggil sebaga saksi.

Mereka itu termasuk anggota grup WA “Jurnalis”. Yang didirikan di tahun 2016, di masa bupati lama. Anggota grup itu 200 orang. Termasuk bupati dan wakil bupati Bojonegoro yang bertengkar itu. Pun bupati sebelumnya, Suyoto, juga masih menjadi anggota. Demikian juga wabup lama, yang tak lain paman wabup yang sekarang.

Di grup WA itulah bupati dan wakil itu berantem. Pemilihan diksi di situ ada yang dianggap mencemarkan nama baik.

Saya sendiri malu melihat copy pembicaraan di WA itu. Pertengkarannya tidak bermutu. Pun para pembaca Disway. Begitu banyak kecaman dari pembaca untuk tingkat logika kalimat yang parah di WA itu.

Sejak kapan mereka bertengkar?

Korslet pertama terjadi tiga bulan setelah pelantikan. Habis Magrib. Malam itu, Sekda Bojonegoro datang ke rumah dinas Wabup-kalau pun ditulis Wabub mestinya juga tidak salah, kalau itu dianggap singkatan dari wakil bupati beneran.

Sekda malam itu membawa segebok berkas, Minta tanda tangan. Cc

“Berkas apa ini?”

“Mutasi jabatan,” jawab Sekda yang sekarang sudah bukan Sekda lagi.