Pertamina Sub-sub

Dirut Pertamina, Nicke Widyawati

Oleh : Dahlan Iskan


PERTAMINA memasuki babak baru: benar-benar hanya jadi holding. Semua yang berbau operasional sepenuhnya diserahkan ke sub-sub-holding.

Itulah keputusan terbaru Menteri BUMN Erick Thohir. Yang mulai berlaku Jumat kemarin.

Anda sudah tahu: kini ada 6 sub-holding di bawah Pertamina. Yakni:


Upstream, yang menangani semua urusan hulu: ladang-ladang minyak dan gas.

Refining & Petrochemical, yang menangani lima kilang besar dan industri kimia.

Commercial & Trading, yang menangani penjualan BBM dan membeli minyak mentah.

Power & NRE, yang menangani geotermal dan energi baru seperti solar cell dan baterai lithium.

Gas. PGN (Perusahaan Gas Negara) berada di sini.

Shipping, yang mengurus kapal-kapal Pertamina, khususnya kapal-kapal tanker pengangkut minyak.

Awalnya tersiar kabar sub-holding itu akan ada tujuh. Yakni ditambah sub-holding urusan pelayanan. Yakni yang akan mengurus soal rumah sakit atau hotel Pertamina.

Ke mana rumah-rumah sakit dan hotel itu berinduk? Atau dijual saja?

Tentu reorganisasi Pertamina ini merupakan langkah yang amat besar. Itu tidak mudah. Mungkin di dalam tubuh grup Pertamina kini lagi meriang. Yang di pusat banyak yang kehilangan kekuasaan.
Cukup besar. Banyak jabatan lama yang harus hilang. Mereka harus pindah ke anak perusahaan.

Yang di anak perusahaan juga harus menghadapi gelombang mutasi staf internal mereka. Ditambah harus mengakomodasi kiriman orang-orang dari pusat.

”Kapal besar” Pertamina kini lagi mengarungi lautan baru yang penuh riak. Tapi layar sudah dikembangkan. Kapal harus tetap melaju.

Dalam masa pancaroba seperti itu tentu akan muncul banyak keluhan. Setidaknya gerundelan. Manajemen yang mau banyak mendengar tentu akan mengurangi keresahan seperti itu.

Saya dengar, restrukturisasi ini atas inisiatif penuh dari kementerian BUMN. Bukan dari inisiatif Pertamina. Berarti kementerian BUMN akan memonitor baik-baik apa yang terjadi setelah palu restrukturisasi diayunkan.

Saya tentu setuju –emangnya punya hak untuk setuju atau tidak setuju? –dengan langkah Erick Thohir itu. Secara struktur bisa lebih bagus. Lebih jelas.

Tapi apakah itu sudah menjawab tantangan masa depan Pertamina?

Rasanya belum. Itu baru ”menertibkan” struktur di Pertamina. Bisnisnya masih biasa seperti yang lama.