Jumlah KDRT di Kabupaten Bekasi Terus Meningkat

TINDAK kekerasan terhadap perempuan dan anak terbilang tinggi di Kabupaten Bekasi. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi kasus tertinggi sejak tiga tahun terakhir. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kabupaten Bekasi mencatat, KDRT marak terjadi saat usia pernikahan menginjak tahun kelima.

Ketua P2TP2A Ani Mintareja mengatakan, banyak masyarakat khususnya suami istri yang tidak mengerti tentang kekerasaan terhadap perempuan dan anak. Sehingga mereka, para pelaku, kerap tidak menyadari perlakuannya telah melukai korban. Terlebih, kekerasaan lebih sering menyerang mental dari pada fisik.

“Saya juga miris, bukan cuma wanita tapi anak di bawah umur yang jadi korban. Banyak orang tidak tahu kriteria mana yang sebenarnya sudah masuk pada tindak kekerasan. Bahkan mengambil henpon saja, suami kepada istri, merebut, itu sudah masuk kekerasan. Ke depannya kita harus sama-sama, banyak menyosialisasikan kekerasan itu sendiri,” kata dia saat ditemui pada peringatan Hari Kartini di Gedung KH Noer Ali Pemerintah Kabupaten Bekasi, Kamis (21/4/2016).

Sekretaris P2TP2A Ranilsah mengatakan, perempuan masih menjadi korban terbanyak kasus kekerasan. Berdasarkan data P2TP2A Kabupaten Bekasi, 37 kasus kekerasan terjadi pada 2014. Jumlah itu meningkat pada 2015 sebanyak 44 kasus. Sedangkan sampai triwulan pertama 2016, kata Ranilsah, pihaknya sudah menangani sedikitnya 5 kasus kekerasan.


“KDRT itu banyak, korbannya jelas perempuan. Kasus itu juga yang banyak pelecehan seksual, yang korbannya juga perempuan. Bahkan banyaknya di bawah umur. Paling muda usia 5 tahun,” kata dia.

Menurut Ranilsah, terdapat beberapa penyebab terjadinya kekerasan. Di antara ekonomi dan ketidaksiapan suami maupun istri dalam berkeluarga. Dari hasil kajian P2TP2A, kata dia, kebanyakan KDRT itu terjadi pada usia pernikahan menginjak lima tahun.

Pasangan yang mendambakan pernikahan bahagia terkadang tidak siap saat telah menjalaninya. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka kadang tidak siap hingga akhirnya terjadi pertengkaran lalu berbuah kekerasan. “Penyebab lain lagi yakni perselingkuhan. Ini bagian dari kekerasan,” kata dia. [dam/gob]