Antrean Fatal Ratusan Penderita Gagal Ginjal

Grafis penderira gagal ginjal di Bogor
Cuci darah atau hemodialysis
Cuci darah atau hemodialysis

POJOKSATU.id, BOGOR- Budaya antre yang sejatinya bernilai baik, masih saja disalahgunakan. Dan yang menjadi korbannya  adalah mereka yang hanya memiliki waktu sedikit untuk sehat. Salah satunya, penderita penyakit gagal ginjal. Di Bogor, penderita gagal ginjal setengah mati mengantre panjang untuk menyuci darah.

Dengan kondisi tubuh yang  membengkak, Tyas Arum Atmaja (30) nampak kepayahan. Tubuhnya kurus namun buncit di bagian perut. Langkah kakinya terasa berat meski hanya untuk berjalan dari kamar ke ruang tamu. Di temui Radar Bogor (grup pojoksatu.id) di kediamannya di RT 05/02, Cilendek Timur, Bogor Barat, pekan lalu, Tyas mengaku sedang tidak sehat.

Sudah dua hari, ibu satu anak tersebut sering kali merasa sesak di dada. Sesekali bahkan tak sanggup bernafas. Jika pagi tiba, tak jarang Tyas juga merasakan mual dan muntah-muntah akibat tidak bisa buang air kecil.

“Kondisi lambung saya memburuk,” jelasnya sembari membasuh bulir-bulir keringat yang tampak membasahi dahi.


Tyas merupakan salah satu penderita baru gagal ginjal di Kota Bogor. Seharusnya, kondisi Tyas dapat jauh lebih sehat jika dia rutin cuci darah. Sayangnya hal tersebut sulit terlaksana. Persoalan yang menimpa istri dari Andi Wijaya ini bukan perkara mampu atau tidak dia membayar pengobatan. Tapi karena antrean.

Selama enam bulan ini, Tyas merupakan pasien cuci darah RS Medica Dramaga. Tapi karena dia pindah rumah ke sekitar Cilendek, dia memilih berobat di RS Marzoeki Mahdi. Keputusan pindah rumah dan pindah pengobatan itu ternyata membuahkan sebuah konsekuensi buruk bagi Tyas.

Sebagai pasien anyar di RS Marzoeki Mahdi, Tyas mesti mengantre. Karena rumah sakit yang dibangun pada zaman kolonial itu sudah memiliki jadwal cuci darah bagi pasien rutin. Tyas baru diberi kesempatan cuci darah pada lima hari ke depan. Walhasil, dia mesti berkompromi dengan segala rasa sakit pada tubuhnya lebih lama lagi.

“Antrean di RS PMI bahkan sampai tujuh hari,” cetus sang suami, Andi.

Andi berharap, pemerintah bisa mengatasi persoalan ini. Karena salah satu tumpuan hidup penderita gagal ginjal tiada lain adalah cuci darah. “Kalau pasien baru ya rata-rata seperti itu, harus nunggu sampai berhari-hari baru bisa cuci darah. Padahal seminggu haru dua kali, kasihan kalau harus menunggu selama itu,” kata dia.

Tyas merupakan satu dari 202 orang yang menderita gagal ginjal di Kota Bogor. Kebanyakan dari mereka harus rela menunggu antrean hingga berhari-hari. Padahal, tak sedikit, penderita gagal ginjal yang mengalami hipertensi, bahkan kematian mendadak akibat telat menjalani cuci darah.

Kondisi disebabkan kurangnya jumlah alat yang tersedia di Kota Bogor. Dari data yang dihimpun Radar Bogor, jumlah penderita penyakit ginjal terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2014, penderita gagal ginjal di angka 202 orang naik dari tahun sebelumnya yang hanya 137 orang.

Celakanya, pertambahan penderita gagal ginjal tak dibarengi ketersediaan alat cuci darah (hemodialisa) di rumah sakit yang ada di Kota Bogor. Hingga saat ini, alat cuci darah yang ada di empat rumah sakit besar di Bogor hanya 53 unit.

Setiap minggunya, alat tersebut hanya mampu melayani 106 penderita. Karena maksimal penggunaan hanya dua kali shift. Padahal, lazimnya setiap penderita melakukan cuci darah dua kali dalam seminggu.

Pasien Membeludak, Alat Hemodialisa Minim

Grafis penderira gagal ginjal di Bogor
Grafis penderira gagal ginjal di Bogor

Kepala Bidang Pelayanan Medik RS Marzoeki Mahdi  dr Siti Khalimah tak menampik banyaknya antrean penderita gagal ginjal di RS-nya. Pihaknya hanya memiliki 12 unit alat Hemodialisa, sedangkan pasienya yang berobat rutin mencapai 50 orang.

“Pemicu utama penderita gagal ginjal yakni akibat pola konsumsi dan pola hidup masyarakat. Banyaknya makanan siap saji dan minuman kemasan juga menjadi salah satu faktor yang memicu seseorang menderita penyakit gijal,” kata dia.

Tak hanya minim dalam sarana prasarana saja, jumlah pasien juga tidak berimbang dengan ketersediaan dokter maupun perawat yang ahli menangani penyakit ginjal. “Padahal, salah satu kunci pencegahan gangguan ginjal terbilang sederhana, minum air putih, sekurang-kurangnya delapan gelas sehari dan gaya hidup sehat lainnya, termasuk berolahraga,” ucapnya.

Minimnya alat Hemodialisa juga dialami RS PMI Bogor. Humas RS PMI Bogor, Yuda Waspada mengatakan, saat ini, RS PMI memiliki 30 unit cuci darah. Dengan jumlah pasien yang rutin cuci darah, sebanyak dua kali dalam seminggu yakni 400 pasien.

“Kalau yang rutin ada sekitar 400 pasien, belum lagi pasien yang baru. Kalau pasien yang rutin ini, sudah memiliki jadwalnya masing-masing. Setiap pasien rutin dua kali cuci darah dalam seminggu,” kata Yuda.

Dia mengaku, banyak pasien baru yang harus menunggu giliran cuci darah hingga beberapa hari bahkan satu minggu. Itu dikarenakan, jadwal cuci darah sudah penuh oleh pasien cuci darah yang sudah rutin.

“Yang baru itu biasanya yang antre, tapi biasanya kami juga selalu berikan solusi dengan mengarahkan RS lain yang memiliki alat. Tapi kalau kondisinya sangat mendesak, terpaksa alat kami lemburkan,” akunya.

Jadi, kata dia, sambil menunggu waiting list di RS PMI, pasien baru bisa diarahkan ke tempat lain yang bisa menangani. Dengan kata lain, RS PMI tidak akan membiarkan pasien terlantar dengan kondisi harus segera cuci darah.

Sementara, Direktur Utama RSUD Kota Bogor, dr Dewi Basmala Mars menyatakan tren pasien gagal ginjal memang terus meningkat. Bahkan, banyak pasien di beberapa RS harus menunggu giliran sampai satu minggu untuk dilakukan tindakan cuci darah. Sebab, jumlah alat yang tersedia sangat terbatas.

“Kita ada delapan unit, tapi satu unit untuk back up. Jadi per hari ada tujuh unit yang terpakai. Durasi setiap cuci darah yakni 4-5 jam, makanya untuk awal kita layani dua shift. Jadi per hari bisa melayani 14 tindakan cuci darah,” kata Dewi kepada Radar Bogor.

Namun, kata dia, setelah berjalan selama dua bulan, rencananya RSUD akan melayani cuci darah hingga tiga shift. Sehingga, per harinya bisa dilakukan tindakan sampai dengan 21 tindakan cuci darah.

“Kita baru buka (runningnya) minggu depan. Ini merupakan salah satu program baru kita. Dimana, sebelumnya RSUD belum mempunyai unit hemodialisa. Namun, karena jumlahnya terus meningkat, sudah kewajiban RSUD memiliki unit,” ucapnya.

Meski baru akan dibuka, namun, dia menargetkan, sebagai satu-satunya RS milik pemerintah, pihaknya akan menambah alat cuci darah untuk memenuhi kebutuhan pasien gagal ginjal yang ada di Kota Bogor.

“Tahun 2016 pokoknya sudah harus ada 30 unit cuci darah. Saat ini baru ada delapan, penambahan dilakukan secara bertahap mulai dari tahun ini,” beber mantan Dirut RS Medika Dramaga itu.

Ini Penyebab Utama Gagal Ginjal

Penderita ginjal cuci darah
Penderita ginjal cuci darah

Penyakit gagal ginjal kronik (GGK) menduduki peringkat ke-12 sebagai penyakit dengan kematian tertinggi. Setiap tahunnya terjadi peningingkatan kasus gagal ginjal di dunia. Penyakit GGK, merupakan penyakit kerusakan ginjal yang terjadi lebih dari tiga bulan, berupa kelainan struktur fungsi.

WHO juga memperkirakan 500 juta orang mengalami GGK dan sekitar 1,5 juta orang diantaranya telah mengalami gagal ginjal terminal, yang harus menjalani hidup bergantung pada hemodialisasi

“Faktor yang menyebabkan seseorang terkena gagal ginjal, salah satunya karena pola hidup yang tidak dijaga. Asupan makanan, dan kurangnya aktifitas olahraga juga bisa menyebabkan gagal ginjal,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medik RS Marzoeki Mahdi, dr Siti Khalimah.

Makan makanan instan dan minuman soda, sangat berbahaya bagi ginjal, hingga menimbulkan kerusakan. Makanya, Siti menyarankan, lebih baik kembali pada kebiasaan tradisional, yakni makan masakan yang dimasak sendiri di rumah, dan perbanyak minum air putih.

“Minimal delapan gelas sehari itu harus benar-benar dijalankan. Selain itu, perbanyak oralhraga. Masyarakat saat ini kan sangat sulit berolahraga,” imbaunya.

Cuci darah (hemodilisis) pada penderita gagal ginjal, apapun penyebabnya adalah sebagai terapi pengganti ginjal yang sudah mengalami kerusakan struktur dan fungsinya sampai pada derajat, atau tahap tertentu.

Bila ginjal yang sudah mengalami hal ini tidak digantikan fungsinya, kerjanya, maka sisa-sisa sampah proses metabolisme tubuh. Toksin seperti urea, kreatinin, kelebihan cairan, dan sebagainya akan menumpuk dalam tubuh.

“Kondisi ini dapat menyebabkan bermacam keluhan, seperti sesak nafas, mual, muntah, tubuh bengkak, hipertensi dan bahkan kematian mendadak,” kata Siti.

Memang, setiap tindakan itu ada efek sampingnya. Tujuan hemodialisis adalah berusaha memperbaiki kualitas hidup penderitanya. Banyak pasien yang sudah menjalani cuci darah selama bertahun-tahun, dan mereka dapat hidup seperti mendekati orang normal.

Hemodialisis adalah proses pembersihan darah dengan menggunakan mesin. Idealnya pengobatan ini dilakukan dua kali dalam seminggu. Selain tindakannya harus dilakukan di rumah sakit, biaya yang dikeluarkan juga tidaklah sedikit.

“Tindakan cuci darah ini membuat pasien menjadi tergantung kepada mesin dan tentu ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” akunya.

Cangkok Ginjal, Alternatif Atasi Gagal Ginjal

transpalantasi ginjal
transpalantasi ginjal

Selain hemodialisis, ada alternatif lain terapi pengganti gagal ginjal, yakni Transplantasi ginjal. Merupakan terapi penggantian ginjal yang melibatkan pencangkokan ginjal dari orang hidup atau mati kepada orang yang membutuhkan.    Transplantasi ginjal menjadi terapi pilihan untuk sebagian besar pasien dengan gagal ginjal dan penyakit ginjal stadium akhir.

Selain itu, alternatif lainnya yakni peritoneal dialisis, adalah metode pembuangan racun menggunakan cairan khusus yang dimasukkan kedalam perut. Proses ini bisa dilakukan sendiri di rumah, namun harus dilakukan selama berjam-jam.    Mekanismenya yaitu cairan di dalam perut harus didiamkan untuk menyerap racun. Biasanya proses ini dilakukan empat kali dalam sehari.

RS Marzoeki Mahdi, salah satu RS di Kota Hujan yang memberikan pelayanan hemodialisasi. Saat ini ada sekitar 50 pasien yang menjalani hemodialisasi di RSMM. Dari jumlah itu, diketahui bahwa 31 persennya mengalami depresi ringan sampai sedang, 25 persen mengalami depresi sedang, dan 29 persen pasien mengalami cemas sedang ke berat.

“Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat di ruang hemodialisa, masalah yang sering dihadapi klien yang menjalani dialysis adalah gangguan pola tidur, ansietas, ketidakberdayaan dan keputusasaan,” kata dia.

Dia juga menyebut, banyak permasalahan yang timbul pada pasien yang sedang menjalani dialysis. Mulai dari tidak bisa tidur, cemas, bahkan tidak berdaya yang akhirnya menyebabkan putus asa.

“Bulan lalu, kami bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Keperawatan UI untuk membentuk kelompok swabantu keluarga pasien hemodialisa. Diharapkan, keluarga bisa terus mensupport pasien agar memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” tandasnya.

(radar bogor/viv/ind)