Melihat dari Dekat ‘Irigasi Cihea’ (2) Dibersihkan dengan Menyembelih Kambing Hitam

TEROWONGAN AIR: Seperti inilah kondisi terowongan ‘Irigasi Cihea’ Bojongpicung sepanjang 1.200 meter.
TEROWONGAN AIR:  Seperti inilah kondisi  terowongan ‘Irigasi  Cihea’ Bojongpicung  sepanjang 1.200 meter.
TEROWONGAN AIR: Seperti inilah kondisi  ‘Irigasi Cihea’ Bojongpicungsepanjang 1.200 meter.

POJOKSATU – Seiring dengan perkembangan peradaban, Irigasi Cihea dan Bendungan Cisokan saat ini sangat dijaga, baik oleh masyarakat sekitar dan juga pemerintah daerah. Hal itu tidak hanya karena Irigasi Cihea sangat dibutuhkan, bahkan kepercayaan masyarakat juga mengarah pada hal mistis.

Rojali (65) warga sekitar menuturkan, setiap tahun Irigasi Cihea selalu rutin dibersihkan, terutama dibagian terowongan. Kabarnya, sebelum melakukan pembersihan, dilaksanakan dulu tawasul dan penyembelihan kambing hitam.

“Ya setau saya memang suka rutin dibersihkan setiap tahunnya. Terutama bagian terowongan. Sebelum dibersihkan biasanya ada penyembelihan kambing hitam dulu, sebagai bentuk penghormatan terhadap alam atas limpahannya,” tuturnya.

Hal senda dikatakan Luki Muharam. Menurut Pria yang menjabat sebagai Divisi Sejarah Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) ini, budaya ruwatan atau menyembelih kambing hitam di Irigasi Cihea masih dilakukan hingga saat ini oleh masyarakat sekitar. “Ya memang ada budaya ruwatan di sana. Tapi saya tidak tahu dari kapan mulainya ada budaya itu,” terangnya.


Menurut Luki, budaya yang dilakukan warga sekitar Cisokan itu berkaitan dengan sejarah adanya Kerajaan Tanjungsinguru. “Dulu di sekitar irigasi itu ada kerajaan namanya Kerajaan Tanjungsinguru. Nah rajanya itu bernama Prabu Jaka Susuru. Nah ada juga yang bilang kalau penyembelihan kambing hitam dam tawasulan ditujukan pada Prabu Jakasusuru,” pungkasnya.(jun/cr1)