Melihat dari Dekat ‘Irigasi Cihea’ (1) Dibangun Belanda, Telan Ribuan Korban

TEROWONGAN AIR: Seperti inilah kondisi terowongan ‘Irigasi Cihea’ Bojongpicung sepanjang 1.200 meter.
TEROWONGAN AIR: Seperti inilah kondisi terowongan ‘Irigasi  Cihea’ Bojongpicung  sepanjang 1.200 meter.
TEROWONGAN AIR: Seperti inilah kondisi terowongan ‘Irigasi Cihea’ Bojongpicung sepanjang 1.200 meter. Foto : Arif / Pojoksatu.id

POJOKSATU – Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Peran air sangat besar baik untuk kebutuhan langsung seperti diminum, memasak, sanitasi atau keperluan tidak langsung seperti irigasi, peternakan, pembangkit listrik tenaga air maupun kebutuhan lainnya.

Pentingnya air untuk pertanian, sudah sangat dirasakan masyarakat Cianjur, tidak hanya pada saat ini, melainkan jauh sebelum negeri ini merdeka. Dimana saat bangsa Belanda melakukan penjajahan terhadap Indonesia, berbagai fasilitas untuk mencukupi kebutuhan pertanian salah satunya membangun irigasi yang diberinama ‘Irigasi Cihea’ yang terdapat di Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung.

Irigasi Cihea atau juga Bendungan Cisokan satu dari beberapa irigasi peninggalan kolonial Belanda yang ada di Kabupaten Cianjur.

Melihat dari dekat kondisi bangunan Bendungan Cisokan begitu kokoh, meski sudah berusia lebih dari seratus tahun atau satu abad. Kokohnya bangunan bendungan mengindikasikan bahwa bangsa Belanda sangat teliti dalam membangun fasilitas umum.


Irigasi Cihea atau Bendungan Cisokan didirikan pada tahun 1897. Meski sempat direhab pada tahun 2001 dan memiliki wajah baru, namun konstruksi asli bangunan masih tetap terlihat, kondisi ini jadi kekaguman beragai pihak. Tidak hanya itu, letak irigasi yang berada diantara hutan yang tumbuh pepohonan, memberikan keindahan tersendiri bagi siapa saja yang datang ke lokasi ini.

Hanya saja, jarak yang cukup jauh yakni sekitar 30 kilometer lebih dari pusat kota Cianjur, serta jalan yang kurang mendukung, jadi salah satu hambatan bagi para pengunjung menuju lokasi tersebut.

Keberadaan Bendungan Cisokan saat ini sangat dirasakan betul masyarakat sekitar Ciranjang, Haurwangi dan Bojongpicung. Pasalnya, Bendungan Cisokon merupakan sumber pangairan utama seluas 5.000 hektar lebih sawah di dataran Cihea. Tanpa Bendung Cisokan, pesawahan di dataran Cihea dipastikan akan berubah menjadi sawah tadah hujan.

Divisi Sejarah Paguyuban Pasundan Cianjur Luki Muharam menuturkan, dalam catatan sejarah, irigasi Cihea berhasil menjadi irigasi percontohan, bahkan berhasil menjadikan Cianjur sebagai daerah penghasil beras.

Namun, dalam proses pembangunannya, banyak hal yang terjadi dari mulai korupsi, hingga penyakit malaria.
“Jadi itu dulu dibangun pada zaman Adipati Prawiradirja II sebagai bentuk balas budi pada Ratu Hermina (Ratu Belanda,red). Tapi pas pembangunannya ada manipulasi dana dan korupsi oleh oknum pemerintah daerah,” papar pria yang juga menjabat sebagai Divisi Sejarah Lembaga Kebudayaan Cianjur (LKC) ini.

Pada awal keberadaannya, irigasi Cihea sempat membuat petani yang berada di sekitar irigasi merugi, dan banyak yang terjangkit penyakit malaria. “Itu dulu, sistem irigasi yang dibangun terlalu canggih, dan masyarakat belum bisa mengoperasikannya. Sehingga muncul wabah karena saluran pengairan yang ada di seputar irigasi Cihea kurang dipelihara dengan baik.

Akibatnya muncul rawa-rawa yang menjadi tempat bersarangnya nyamuk malaria, bahkan wabah malaria di sekitar irigasi Cihea itu terus berlanjut sampai datangnya Jepang. Tapi sebenarnya sebelum datang Jepang, pemerintah Belanda juga sudah mengutus dokter pribumi yang bernama dokter Mangkupraja untuk meneliti wabah malaria itu, dan akhirnya berhasil menemukan titik sumber penyakit, dan memberantasnya,” imbuh Luki.
Wabah malaria itu bukanlah tumbal pertama dari pembangunan irigasi Cihea. Menurut Luki, korban lebih banyak terjadi ketika Bendung Cisokan, yang berlokasi di Cisuru, mulai dibangun. “Ribuan rakyat yang dikerahkan kolonial untuk membangun bendungan di Sungai Cisokan itu banyak yang tewas karena kelaparan dan penyakit malaria,” tutur Luki.

Korban tewas paling banyak disaat rakyat membangun terowongan air berdiameter 3 meter sepanjang 1.200 meter. Pasalnya terowongan yang mengalirkan air dari Bendung Cisokan ke saluran irigasi Cihea itu merupakan bagian paling berat dari proyek tersebut. Terowongan itu dibuat dengan menelusuri tebing Sungai Cisokan yang merupakan daerah berbatu cadas.

Ribuan rakyat, yang sebagian diantaranya didatangkan dari luar Cianjur bahkan dari Jawa, jadi kerja paksa untuk melubangi tebing cadas itu dengan peralatan sederhana. Sedangkan makanan dan gaji sangat minim, maka usai terowongan air dibangun, rakyat kembali melakukan kerja paksa membuat saluran irigasi dengan lebar 5-10 meter menelusuri tebing bukit hingga ke daerah dataran Cihea.

Korban meninggal saat membuat saluran irigasi yang sekarang disebut warga setempat sebagai Walungan Cisuru itu kabarnya juga tidak sedikit. Terutama karena terserang penyakit malaria. “Pengorbanan ribuan rakyat waktu itu, tidaklah sia-sia. Karena Bendung Cisokan berikut saluran irigasinya sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Sekalipun dimusim kemarau, ribuan hektar sawah di Bojongpicung dan Ciranjang, tetap bisa ditanami padi dua kali setahun,” ungkapnya.(jun/cr1/dep)