”Ahok seperti Penderita Gangguan Mental”

Berita Terkini Jakarta
Gubernur Ahok

Berita Terkini Jakarta

POJOKSATU.id, JAKARTA – Omongan kasar Gubernur DKI Jakarta, Tubagus Tjahja Purnama alias Ahok, dianggap memprihatinkan. Saat berdialog di sebuah televisi swasta saja, setidaknya ada 5 kali kosa kata yang tak senonoh dilontarkan Ahok.

“Tampaknya program Jokowi itu tak di gubris Ahok. Prilaku Ahok tak ubahnya seperti penderita gangguan mental yang sukar dibedakan dengan orang normal,” kata Sekjend Ikatan Alumni Politik (Ikapol) IISIP, Edward Panggabean, dalam keterangannya, Jakarta, seperti dilansir Nonstop, Senin (23/3).

Padahal Jokowi pernah menorehkan makna dari revolusi mental saat kampanyenya, bahwa sistem pendidikan harus diarahkan untuk membantu membangun identitas bangsa Indonesia yang berbudaya dan beradab.


“Nah, bagaimana kita terbangun dengan ucapan ahok tersebut, lalu bagaimana dia mendidik warganya, jika berprilaku seperti ini. Apakah ucapan itu merupakan sosok orang yang berbudaya dan beradab,” tegasnya.

Ditambahkan Edward, Presiden Jokowi dalam revolusi mental itu juga mengutip konsep Trisakti yang pernah diutarakan Bung Karno dalam pidatonya tahun 1963 dengan tiga pilarnya, ”Indonesia yang berdaulat secara politik”, ”Indonesia yang mandiri secara ekonomi”, dan ”Indonesia yang berkepribadian secara sosial-budaya”. Namun, disayangkan konsep itu tak mengena dalam sikap mantan Bupati Belitung Timur tersebut.

“Di tengah kegalauan jati diri para remaja muncul pejabat negara yang mengeluarkan kata-kata tak pantas. Padahal Ahok sudah berkarir di dunia politik hampir 10 tahun,” paparnya.

Memang, kata Edward setiap manusia punya potensi bertingkah laku aneh. Namun, sebagai pejabat apalagi seorang Gubernur yang menjadi panutan warganya, seyogyanya Ahok mempunyai hikmat dan bijaksana dalam bertutur kata.

“Jangan buat kisruh konflik politik dia dengan pihak lain, namun menguras rakyat di tengah kondisi politik dan ekonomi yang masih prihatin gini. Selesaikanlah persoalan anda dengan penuh hikmat, minta akal yang bijak dan marifat. Bukan ciptakan manajemen konflik antara eksekutif, dan legislatif, dengan mengajak rakyat untuk masuk dalam perdebatan dia,” tanda aktivis 98 itu. (nonstop/kan/ps)

Baca Fokus Utama: Ahok Menohok