Melihat Jejak Penderitaan Pengungsi Vietnam di Pulau Galang

thumb_280317_06433411022015_galang

POJOKSATU – Pulau Galang dengan luas kurang-lebih 80 km persegi adalah pulau yang sangat terkenal di masa Orde Baru, karena pada tahun 1979 hingga 1996 merupakan tempat penampungan bagi ratusan ribu penggungsi dari Vietnam atau yang lebih dikenal sebagai manusia perahu.

Untuk mencapai tempat wisata Ex Camp Vietnam ini kita terlebih dahulu harus melalui jalan mulus yang panjang dan melintasi enam buah jembatan penghubung di mulai dari Pulau Batam, Pulau Rempang hingga Pulau Galang Besar dengan jarak kurang lebih 53 km.

Melihat bekas tempat pengungsian ini, ibaratnya seperti kita melihat penderitaan kelam masa lalu dimana para pengungsi Vietnam ini melarikan diri dari negaranya yang tengah bergejolak ketika itu. Dengan menggunakan perahu kecil yang diisi puluhan hingga ratusan orang mereka harus menerjang ganasnya lautan dan cuaca yang sangat ekstrim, seperti panas terik di siang hari dan dingin menusuk ketika di malam hari.


Dalam pelariannya, tidak heran bila banyak kapal kayu yang pecah dihantam gelombang besar sehingga merenggut ribuan nyawa di lautan lepas. Bila pun mereka tiba ditempat penampungan seperti di Pulau Galang, tak heran banyak yang kondisinya sudah sakit parah karena kekurangan makan dan kekurangan air minum di lautan, bahkan banyak pula yang harus merenggang nyawa di atas perahu sebelum mencapai tujuan.

Bila kita tiba di Ex Camp Vietnam ini, setiap pengunjung dikenai restribusi sebesar Rp 5.000. Dengan mengikuti papan penunjuk wisatawan akan melalui jalan yang sempit beraspal dan akan menemukan papan petunjuk menuju pagoda yang terletak di sebuah bukit dengan udara yang sejuk dan pemandangan alam ke arah selat Pulau Galang.

Usai dari Pagoda kita akan melalui tugu kecil bertulisan Humanity Statue dimana terdapat patung kecil dengan tulisan bahwa patung itu didirikan para pengungsi untuk mengingat musibah yang dialami Tinh Nhan, seorang perempuan yang diperkosa sesama pengungsi tepat di tempat patung tersebut berdiri. Kemudian Tinha Nhan bunuh diri tidak lama setelah musibah itu.

Tak jauh dari patung tersebut, di sebelah kiri, tampak areal pemakaman Ngha Trang. Di sana ada 503 makam penganut Buddha dan Kristen yang meninggal karena sakit atau bunuh diri. Di pintu gerbang makam itu tertulis Dedicated to the People Who Died in the Sea on the Way to Freedom.

Di salah satu sudut jalan terdapat papan petunjuk bertuliskan Gereja Protestan yang masih tegak di sana, namun bangunan gereja yang terbuat dari papan kayu tinggal reruntuhannya saja dan disekelilingnya tampak reremputan dan belukar yang tumbuh mengelilingi gereja.

Sebagian besar bagunan bekas kamp pengungsi VietnamĀ  banyak yang sudah rusak dan tidak terawat sehingga dipenuhi semak ilalang. Hanya sedikit saja yang telah direstorasi, seperti halnya bekas penjara, markas komando satuan pengamanan, atau rumah sakit milik UNHCR. Gereja Katolik Imaculata.

Bekas Kantor UNHCR bahkan dijadikan museum kecil. Dekat markas komando satuan pengamanan tampak pula dua perahu kayu dengan cat biru bekas perahu pengungsi yang diangkat ke atas daratan sebagai kenangan atas perjuangan mereka untuk kehidupan yang lebih baik.

Seandainya bekas kamp pengungsi ini ditata dengan lebih baik dan dilakukan perawatan rutin, tentu akan menjadi tempat wisata sejarah yang sangat menarik. Selain itu dapat pula dijadikan wisata rohani dimana orang dapat merenungkan diri atas kehidupan yang telah terjadi dengan berkaca pada usaha dan upaya perjuangan orang Vietnam untuk mendapat meraih kehidupan yang lebih baik. (ysa/rmol/dep)