Tak Teraliri Listrik, Habis Gelap, Tariklah Kabel

Alone_In_The_Dark_by_BohdanIvanyuk

POJOKSATU-Habis Gelap Terbitlah Terang. Kalimat itu merupakan judul buku kumpulan surat yang ditulis RA Kartini selama ia memperjuangkan hak-hak kaum hawa di Indonesia. Namun, kalimat itu nampaknya belum mampu melekat untuk Kabupaten Cianjur.

Saat itu, Kartini berjuang membela kaum perempuan, kini Kota Bersemi pun harus memperjuangkan sejumlah warganya yang hingga saat ini, 2015, belum merasakan terang alias gelap gulita belum memperoleh aliran listrik.

Padahal, Kabupaten Cianjur berjarak tidak lebih dari 200 kilometer ke Ibukota Negara, Jakarta. Meski terbilang cukup dekat, bukan merupakan satu alasan dan menjadikan Cianjur sebagai kabupaten yang cukup berkembang atau bahkan maju sekalipun.


Sebaliknya, masih cukup banyak permasalahan yang menyelimuti Kota Tauco ini, terutama dengan ketersediaan sarana dan prasarana serta keberadaan infrastruktur yang memadai. Hal itu makin kentara jika melongok ke wilayah-wilayah pelosok, yang ternyata meskipun sudah merdeka 70 tahun, masih saja ada wilayah yang belum teraliri listrik.

Salah satu wilayah yang belum teraliri listrik, tepatnya di Kampung Cicongkok RT 01 RW 08, Desa Kubang, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur. Selama ini, masih belum bisa sepenuhnya menikmati pelayanan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Wilayah tersebut baru bisa merasakan terangnya pijar lampu listrik sekitar dua tahun lalu. Bukan dari PLN, melainkan dengan menarik kabel dari salah satu rumah warga di lain kampung yang terdekat.

“Jarak kampung terdekat dengan sini sekitar 1,5 kilometer. Jadi, harus narik kabel sejauh itu untuk disalurkan ke rumah-rumah warga yang lainnya,” ujar salah satu warga, Eti (39).

Meski sudah bisa menikmati penerangan dengan cara menarik kabel dari kampung tetangga terdekat, warga masih tidak dapat merasakan kelegaan sama sekali. Pasalnya, kerap kali, listrik mengalami byar-pet berulang-ulang tanpa diketahui penyebabnya. “Sering hidup-mati listriknya. Tidak tahu kenapa bisa seperti itu,” ucap dia.

Sedangkan untuk membayar tagihan listriknya, Eti mengaku, setiap warga harus merogoh kocek sekitar Rp50 ribu, bahkan mencapai Rp100ribu per bulannya. Besar-kecilnya tagihan itu didasarkan atas banyaknya peralatan rumah tangga yang memakai listrik.

Jika hanya sekedar lampu penerangan saja, maka tagihan listrik yang harus dibayar pun tidak akan cukup besar. Sedangkan jika ditambah dengan perabot elektronik lainnya, dipastikan tagihan per bulannya pun membengkak. “Pokoknya, semakin banyak pakai listriknya, ya semakin mahal. Kalau cuma lampu aja ya lebih murah,” lanjut Eti.

Diakui Eti, dua tahun sebelumnya, di kampung kelahirannya itu dipastikan tidak ada aktifitas warga yang dilakukan di luar rumah jika sudah menjelang adzan maghrib. Warga lebih memilih berada di dalam rumah.

Sedangkan untuk penerangan di dalam rumah, warga hanya menggunakan lampu cempor dengan berbagai ukuran disesuaikan dengan ukuran ruangan. Jika terpaksa harus keluar rumah pada malam hari, ketika itu, warga hanya memakai obor.

“Kalau yang punya uang ya bisa beli senter batrei. Tapi paling banyak ya pakai oncor (obor),” terang Eti. Hal serupa pun terjadi di Kampung Sukamulya RT 7 RW 4, Desa Kertajadi, Kecamatan Cidaun.

Bedanya, warga tidak menarik kabel dari salah satu rumah warga dari kampung tetangga terdekat. Melainkan melalui gardu listrik yang terdekat yang terdapat di jalan setelah mendapatkan persetujuan dari PLN.

Soal jarak, jangan ditanya. Di kampung tersebut, setidaknya warga harus membeli sendiri kabel dari toko listrik dengan panjang, setidaknya lebih kurang 2 kilometer hingga masuk ke dalam pemukiman. Kemudian, kabel tersebut dipusatkan di poskamling untuk kemudian disalurkan lagi ke masing-masing rumah warga.(ruh/dep)