BBM Batal Turun, Ini Alasan Pemerintah

ilustrasi

ilustrasi

POJOKSATU – Pemerintah sudah memutuskan tidak ada harga baru untuk bahan bakar minyak (BBM) pada awal Februari. Menteri ESDM Sudirman Said menjelaskan ada tiga alasan utama yang mendasari keputusan itu. Jadi, tidak semata karena minimnya disparitas penurunan harga minyak dunia.

Tiga alasan itu adalah, menjaga kestabilan pengelolaan harga dan logistik. Lantas, untuk menjaga ruang fiskal. Terakhir, memberi kesempatan bagi PT Pertamina (Persero) untuk lebih mengembangkan infrastruktur minyak dan gas bumi nasional. “Harga (minyak) memang terus turun, tapi tidak ada penurunan harga,” ujar Sudirman.

Seperti diberitakan Jumat (30/1), Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang memastikan tidak adanya perubahan harga BBM. Saat itu, dia menyebut penurunan harga minyak yang berpatok pada Mean of Plats Singapore (MoPS) masih stabil. Kalau dipaksa turun, perbedaan hanya Rp50-an.

Sudirman menjelaskan, pemerintah tidak menutup mata terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Mantan Dirut PT Pindad itu mengakui, harga masih cenderung turun. Tapi, senada dengan yang disampaikan Ahmad Bambang, penurunannya tidak terlampau signifikan. Jadinya, BBM penugasan luar Jawa, Madura, dan Bali juga tetap.

Seperti harga minyak tanah yang masih dijual Rp2.500 per liter. Lantas, solar dilepas Rp6.400 per liter. Sedangkan bensin RON 88 atau Premium Rp6.600 per liter. Dia menyebut kebijakan tidak menurunkan BBM ada positifnya. “Edukasi buat masyarakat untuk ikut memikul beban riil energi yang dikonsumsinya,” imbuhnya.

Dia harap masyarakat tidak hanya melihat harga pembentuk BBM dari minyak mentah saja. Apalagi, saat ini pemerintah masih mempersiapkan diri untuk menghadapi fluktuasi harga minyak dunia. Selain itu, pemerintah juga butuh biaya untuk menyiapkan cadangan stok BBM nasional.

Untuk menjaga akuntabilitas publik soal harga BBM itu, Sudirman menyebut ada auditor dan BPK yang dilibatkan. Masyarakat tidak perlu khawatir karena audit mencakup berbagai aspek. Mulai dari realisasi volume pendistribusian jenis BBM tertentu, penugasan khusus, besaran harga dasar, biaya penugasan pada periode yang telah ditetapkan, hingga besaran subsidi. “Termasuk pemanfaatan selisih-lebih dari harga jual eceran,” terangnya.

Dihubungi terpisah, Plt Dirjen Migas Naryanto Wagimin menambahkan, keputusan tidak memberikan harga baru sudah digodok di Kementerian ESDM. Harga yang tetap juga membuat margin yang diperoleh Pertamina tetap terjaga. “Tetap, Pertamina sudah dapat marginnya,” katanya melalui pesan singkat.

Sedangkan soal cadangan BBM yang disinggung Sudirman Said anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Andang Bachtiar membenarkan pentingnya hal itu. Sebab, anjloknya harga minyak dunia diprediksi berjalan dalam rentang delapan sampai dua tahun. Rugi kalau Indonesia diam saja.

Dia berharap, yang dipersiapkan pemerintah juga untuk penyangga energi nasional. Tidak hanya soal memperpanjang cadangan dari belasan hari ke sebulan misalnya. Cadangan penyangga itu penting supaya saat terjadi hal genting, suplai BBM tetap terjaga. “Caranya, impor besar-besaran dan disimpan sampai saatnya dipakai,” jelasnya. (dim/end)

Feeds