Mangkir, Budi Gunawan Takut Ditahan di Jumat Keramat?

POJOKSATU – Calon Kapolri Komjen Budi Gunawan tak memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus rekening gendut.

Informasi yang dihimpun wartawan, jenderal bintang tiga itu ogah datang karena tak mau dijebloskan ke tahanan KPK. Pasalnya, selama ini KPK selalu menangkap dan menahan pejabat penting pada hari Jumat. Karena itulah muncul istilah Jumat Keramat di KPK.

Ketidakhadiran Komjen Budi Gunawan ke KPK disesalkan banyak pihak. Terlebih Budi merupakan calon kapolri yang seharusnya memberikan contoh yang baik untuk penegakan hukum di tanah air.

Pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia Gandjar L. Bondan menyayangkan penolakan Komjen Budi Gunawan menghadiri pemeriksaan. Terlebih alasan yang disampaikan Budi melalui pengacaranya tidak kuat.


Menurut Gandjar, proses praperadilan dan penyidikan oleh KPK adalah hal yang tidak saling berkaitan. Karenanya, kedua proses itu dapat berjalan secara bersamaan.

“Jalan saja masing-masing. Proses praperadilan jalan dan proses perkara juga jalan,” kata Gandjar saat dihubungi, Jumat (30/1).

Menurut Gandjar, kewenangan untuk melakukan upaya paksa terhadap saksi atau tersangka membuat pemeriksaan KPK tak mungkin dihindari. Karena itu, tidak ada manfaatnya Budi Gunawan menunda-nunda pemeriksaan.

Hal yang sama, lanjutnya, berlaku juga untuk para saksi kasus Budi Gunawan, yang selama ini kerap mangkir pemeriksaan KPK. Memenuhi panggilan KPK justru merupakan langkah hukum positif untuk membersihkan nama mereka dari dugaan keterlibatan.

“Dipanggil itu untuk diketahui keterlibatan atau tdak terlibatnya seseorang. Dia (saksi) dapat menjelaskan tidak ada hubungan apa-apa dengan tersangka dalam kasus ini,” jelasnya.

Lebih lanjut dia juga mengingatkan bahwa mereka yang mangkir pemanggilan KPK bisa dipidana. Pasalnya, sikap tidak kooperatif dapat dikategorikan sebagai upaya menghalangi penyidikan.

“Menghalangi penyidikan itu Pasal 21 UU Tipikor. Bisa diancam pidana, dan menjadi kejahatan sendiri,” pungkasnya. (dil/jpnn/one)