Menteri Jokowi Rapat di Rumah Mega

Kabinet Jokowi
Kabinet Jokowi
Kabinet Jokowi

POJOKSATU – Protes keras masyarakat yang mendukung KPK membuat PDIP gusar. Kemarin (24/1) sejumlah menteri Kabinet Kerja dan kader PDIP melakukan pertemuan di kediaman Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar 27 A.

Menurut informasi salah satu yang poin yang dibahas dalam rapat tersebut yakni terkait konflik KPK dan Polri. Namun, hal itu dibantah PDIP dan mengatakan hanya rapat internal partai. Rapat dadakan itu berlangsung cukup lama. Dimulai dari pagi pukul 10.00 hingga malam hari.

Satu per satu mobil dinas menteri mulai berdatangan di depan rumah ketua umum PDIP itu. Dari pantauan koran ini, pertemuan itu dihadiri oleh Menteri Hukum dan HAM Yasona Laoly. Dia datang dengan menggunakan mobil Toyota Royal Salon B 1126 RFY. Terlihat Yasona mengenakan kemeja putih dipadu dengan celana kain hitam.

Tidak ada pernyataan dari Yasona. Ketika datang dia langsung masuk ke kediaman putri Bung Karno itu. Setelah itu rombongan menteri yang lain mulai berdatangan. Seperti Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo yang mengendarai Toyota Innova putih bernopol B 1 TKL.


Selain menteri kabinet kerja, rapat juga dihadiri oleh kader PDIP. Yakni plt Sekjen PDIP Hasto Kristi yanto, wasekjen Ahmad Basarah, dan ketua DPRD DKI Jakarta PrasetyoDalam rapat itu, mobil Yasona tampak bolak-balik keluar masuk rumah Megawati. Terhitung dia tiga kali keluar masuk rumah Megawati.

Dari data yang dihimpun, Yasona sempat menghadiri rapat dengan Presiden Joko Widodo dan Wakapolri Badrodin Haiti di istana. Dari gelagat itu, menunjukkan bahwa rapat di Jalan Teuku Umar me rupakan rapat yang penting. Namun sayangnya rapat itu tertutup. Tepat pukul 20.00, Tjahjo keluar dari rumah Mega.

Pria yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang gari-garis warna merah langsung melayani pertanyaan wartawan sebelum bergegas pulang. Mantan Sekjen PDIP itu menjelaskan pertemuan itu bukan rapat yang serius. Dia dan beberapa kader PDIP hanya ngobrol- ngobrol santai dengan Mega.

”Hanya mengisi waktu kosong. Nemenin ibu minum kopi, kelapa muda dan makan durian. Itu aja,” jelasnya. Tjahjo membenarkan bahwa sejumlah kader inti PDIP datang dalam acara itu. Seperti Hasto dan Ahmad Basarah. Selain itu ada Yasona yang merupakan menteri Hukum dan HAM.

Namun dia menampik jika pertemuan itu membahas pelemahan KPK. Menurut dia, pertemuan itu membahas persoalan internal partai. Seperti persiapan Kongres. ”Ya internal partai dari A-Z. Kan ini juga bertepatan dengan ulang tahunya ibu Mega. Jadi kami ngobrol-ngobrol santai. Kami gak bahas KPK. Ini kan malam minggu.

Waktu santai,” ucapnya. Rapat di kediaman Mega itu jelas menunjukkan bahwa Mega sangat berpengaruh di dalam pemerintahan. Bahkan ada anggapan bahwa Mega merupakan presiden Indonesia sesungguhnya. Sementara Jokowi hanya menjalankan perintah putri proklamator Indonesia itu.

Menanggapi itu, Pria yang kini menjabat sebagai Mendagri itu mengatakan wajar bila rapatrapat yang digelar di rumah Mega. ”Kan ini kami mau bertemu dengan ketua umum. Jadi wajarkan,” jelasnya pria yang memberikan kado bunga mawar merah di ulang tahun Mega itu. Dalam kesempatan itu, Tjahjo mengungkapkan kekecewaanya terhadap pendapat masyarakat yang menganggap PDIP berusaha melemahkan KPK.

Caranya dengan memenjarakan semua pimpinan KPK mulai dari Abraham Samad, Bambang Widjojanto sampai Adnan Pandu Praja. Menurut dia, PDIP tidak mungkin melemahkan KPK. Sebab, lembaga antirasuah itu dibentuk pada jaman Mega menjabat sebagai presiden. Dia menegaskan, sampai saat ini partai yang berlambang banteng itu masih konsern dengan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi.

Sehingga PDIP akan terus mendukung kerja KPK. Boleh-boleh saja Tjahjo mengutarakan pembelaanya. Namun fakta berbicara yang sesung guhnya. Terbukti bahwa yang melaporkan Bambang Widjo janto ke Mabes Polri adalah Sugianto Sabran yang merupakan anggota DPR RI dari PDIP.

Sehingga jelas, PDIP ingin KPK dilemahkan. Terma suk yang terbaru melaporkan Adan Pandu Praja ke Bareskrim dikenal sebagai simpatisan PDIP. Menanggapi itu, Tjahjo kembali berkelit. Menurut dia kasus itu terkait dengan sengketa pilkada. Bukan karena Sugianto kader PDIP. ”Jadi tidak ada hubungannya dengan Kader PDIP.

Semua orang boleh melaporkan orang lain jika ada bukti. Jangan dikait-kaitkan dengan partai. Urusan hukum ya hukum,” paparnya. (aph)