Jokowi Marah Besar di Istana, Ini Kata Abraham Samad

Jokowi jumpa pers di Istana Bogor

POJOKSATU – Presiden Jokowi dikabarkan marah besar kepada Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad dan Plt Kapolri Komjen Badrodin Haiti di Istana Bogor, Jumat (23/1/2015).

Namun, Abraham membantah kabar tersebut. Menurut Abraham, pembicaraannya dengan Jokowi dan Badrodin dalam pertemuan yang berlangsung selama 20 menit itu sangat normatif. “Tidak benar (Jokowi marah). Semuanya normatif,” ujar Abraham

Abraham tidak menjelaskan apakah dalam pertemuan itu disinggung soal penetapan Komisaris Jenderal (Pol) Budi Gunawan sebagai tersangka.

Sebelumnya, salah satu situs media online menyebutkan bahwa Jokowi menyemprot Abraham dan Badrodin di Istana Bogor. Jokowi mengingatkan KPK bahwa penanggung jawab tertinggi NKRI adalah kepala negara. Dengan demikian, siapa pun yang membangkang perintah kepala negara bisa dituntut pidana.


Isi pertemuan itu dibeberkan oleh salah satu pejabat negara yang enggan dikutip namanya. Ia membeberkan dengan jelas detil pertemuan itu.

“Kepada Ketua KPK, Jokowi bilang KPK jangan merasa seperti manusia setengah dewa yang tidak bisa disentuh dan tidak mau tunduk kepada perintah Kepala Negara,” ujarnya menirukan perkataan Jokowi.

Jokowi mengingatkan bahwa penanggung jawab tertinggi di NKRI adalah kepala negara. Sehingga secara hukum, siapapun yang membangkang terhadap perintah Kepala Negara itu bisa dituntut secara pidana.

Saat itu Ketua KPK menolak menjelaskan ke Jokowi sebagai kepala negara soal kesalahan apa saja yang dilakukan Komjen BG sehingga dinyatakan sebagai tersangka. Saat itu, Keuta KPK mengatakan hal tersebut merupakan rahasia KPK dan tak seorangpun boleh tahu sebelum sidang pengadilan.

Mendengar jawaban tersebut, Jokowi menyatakan bahwa jika itu menyangkut kepentingan bangsa, negara dan rakyat, maka tidak boleh ada rahasia yang disembunyikan terhadap kepala negara.

“Semua tindakan KPK tidak boleh menyimpang dari tata kelola kenegaraan. Jadi KPK tidak boleh bertindak semaunya sendiri. Kalau Ketua KPK saya tindak akibat pembangkangan ini, itu bisa berakibat kemerosotan moral terhadap KPK. Abaraham tampak kecut mendengar ancaman Jokowi tersebut,” kata pejabat itu.

Jokowi pun memarahi Komjen Badrodin Haiti. Dia menegaskan Polri tak bisa berlaku arogan. Jokowi menegaskan jangan mentang-mentang punya senjata dan kekuasaan bisa berlaku sewenang-wenang. Apalagi bergerak sendiri tanpa koordinasi.

“Jangan mentang-mentang kepolisian punya pasukan dan punya senjata serta ada di bawah Presiden lantas para Jenderal di bawah Kabareskrim dan di bawah Kapolri bisa bertindak seenaknya menangkap pimpinan lembaga tinggi negara tanpa pemberitahuan kepada kapolri, apalagi terhadap presiden. Itu jelas melanggar tatanan kenegaraan kita,” semprot Jokowi.

“Kalau para oknum Jendral itu saya tindak, pasti akan menimbulkan kemerosotan moral di kalangan kepolisian,” kata Jokowi.

Jokowi mempertanyakan apakah Kepolosian tidak menyadari kalau pengawal pimpinan KPK itu dari TNI AD? Bisa dibayangkan kalau ada tindakan balasan dari para pengawal tersebut. Bisa kacau negara ini. Kasus ini menjadi alasan kuat untuk meletakkan Kepolisian di bawah kementerian, bisa Kementerian Dalam Negeri atau Kejaksaan Agung, biar tindakan polisi bisa lebih terkontrol. “Plt Kapolri nampak kecut ditegur keras oleh Jokowi,” kata pejabat tersebut. (merdeka/one)