Jokowi Bilang “Bisa Kacau Negara Ini”

Icon Polri V KPK

POJOKSATU – Ada cerita heboh di balik pertemuan Presiden Jokowi bersama Ketua KPK Abraham Samad serta Plt Kapolri Komjen Badrodin Haiti di Istana Bogor, Jumat (23/1/2015). Pertemuan yang berlangsung 20 menit itu dikabarkan penuh dengan suasana tegang. Bahkan, Jokowi ‘mendamprat’ Abraham dan Badrodin.

Kabar tersebut beredar di media online nasional, Sabtu (24/1/2015). Di media online tersebut diceritakan Jokowi
memarahi Komjen Badrodin Haiti.

Jokowi menegaskan Polri tak bisa berlaku arogan. Jangan mentang-mentang punya senjata dan kekuasaan bisa berlaku sewenang-wenang. Apalagi bergerak sendiri tanpa koordinasi.


“Jangan seenaknya menangkap pimpinan lembaga tinggi negara tanpa pemberitahuan kepada kapolri, apalagi terhadap presiden. Itu jelas melanggar tatanan kenegaraan kita,” semprot Jokowi.

Jokowi menyatakan, apakah kepolisian tidak menyadari kalau pengawal pimpinan KPK itu dari TNI AD? Bisa dibayangkan kalau ada tindakan balasan dari para pengawal tersebut.

“Bisa kacau negara ini. Kasus ini menjadi alasan kuat untuk meletakkan Kepolisian di bawah kementerian, bisa Kementerian Dalam Negeri atau Kejaksaan Agung, biar tindakan polisi bisa lebih terkontrol. “Plt Kapolri nampak kecut ditegur keras oleh Jokowi,” kata Jokowi seperti ditirukan seorang pejabat yang enggan disebutkan namanya kepada Merdeka.com.

Selain menyemprot Badrodin, Jokowi juga memarahi Abraham Samad. Kemarahan Jokowi berawal ketika Abraham tak bersedia menyampaikan alasan KPK menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai tersangka rekening gendut.

“Jokowi bilang KPK jangan merasa seperti manusia setengah dewa yang tidak bisa disentuh dan tidak mau tunduk kepada perintah Kepala Negara,” ujarnya menirukan perkataan Jokowi.

Jokowi mengingatkan bahwa penanggung jawab tertinggi di NKRI adalah kepala negara. Sehingga secara hukum, siapapun yang membangkang terhadap perintah Kepala Negara itu bisa dituntut secara pidana.

Kabar tentang kemarahan Jokowi di Istana Bogor dibantah Abraham Samad. Menurut Abraham, pembicaraannya dengan Jokowi dan Badrodin dalam pertemuan yang berlangsung selama 20 menit itu sangat normatif. “Tidak benar (Jokowi marah). Semuanya normatif,” ujar Abraham. (merdeka/one/ps)